This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Minggu, 07 Desember 2014
18.40
Anonim
First Love (A Little Thing Called Love)
First Love (A Little Thing Called Love) (Thai: สิ่งเล็กเล็ก ที่เรียกว่า..รัก) (Sing leklek Tee reak wa... Rak), atau lebih dikenal sebagai Crazy Little Thing Called Love,adalah film komedi romantis Thailand. Film ini dirilis pada tanggal 12 Agustus 2010 di Thailand. Film ini dibintangi oleh Mario Maurer
Pemeran utama
- Baifern Pimchanok Luevisadpaibul sebagai Khun Nam
- Mario Maurer sebagai Khun Shone
Pemeran pembantu
- Sudarat Budtporm sebagai Guru Inn
- Tangi namonto sebagai Guru Phol
- Pijitra Siriwerapan sebagai Guru Orn
- Acharanat Ariyaritwikol sebagai Top
- Kachamat Pormsaka Na-Sakonnakorn sebagai Pin
- Yanika Thongprayoon sebagai Faye
Sinopsis
Khun Nam Pimchanok Luevisadpaibul pada tahun pertamanya di M.1 (1 SMP) jatuh cinta pada seniornya di M.4 (1 SMA), Khun Shone Mario Maurer. Dengan segala cara Nam melakukan sesuatu agar bisa melihat, berbicara dengan Shone. Shone adalah pecinta hewan dan orang yang sangat peduli. Ayah Nam adalah asisten koki di New York, Paman Nam (Chang) datang ke rumah Nam untuk memberikan kabar, jika Nam atau adik Nam (Pang) mendapat Peringkat 1, dia akan pergi ke Amerika, Nam sangat serius untuk bisa pergi ke Amerika karena dia sadar dia tidak mampu untuk mencapai peringkat 1.Teman akrab Nam (Cheer, Gei, dan Nim) membantu Nam untuk bisa mendapatkan Shone, dengan cara memakai buku "9 Resep Cinta" dan "Cara Senior Menyukaimu". Nam berkata, buku itu tidak masuk akal dan memilih untuk belajar, tetapi diam-diam Nam melakukan apa yang dikatakan buku itu.
Saat siang yang terik, Nam, Cheer, Gei, dan Nim sedang mengantri untuk membeli segelas minuman, dan tiba-tiba dua orang pemain basket (Maew dan Ping) langsung datang dan menyelak dengan cara mendorong sehingga Nam, Cheer, Gei, dan Nim terjatuh, Shone melihat mereka dan langsung membeli empat gelas minuman untuk Nam, Cheer, Gei, dan Nim. Saat Shone sedang di gelanggang, tiba-tiba dua pemain basket tadi langsung memukul Shone. Kabar tersebut diketahui Nam setelah Gei dan Nim memberi tahunya. Mereka berempat langsung kembali ke gelanggang, dan menyadari Shone, Maew, dan Ping sudah pergi, dan Nam mengambil kancing yang terjatuh (Nam mengira kancing tersebut adalah milik Shone)
Setiap Nam ingin mendekati Shone, selalu ada seorang wanita (Faye) yang menyelanya, seperti pada saat Nam memberinya es krim tetapi mencair, Faye memberikan kue mangga pada Shone, dan saat Nam ingin pulang bersama Shone, Faye berpura-pura kakinya terkilir agar pulang bersama Shone.
Cheer. Gei, dan Nim bersusah payah untuk membuat Nam menjadi cantik untuk mengikuti kegiatan drama putri salju di sekolah, Nam terpilih menjadi peran utama dalam drama tersebut, seorang kakak kelas (Pin) terpilih untuk bagian merias, dia merias Nam menjadi cantik, dan Shone mengatakan Nam terlihat sama saja. Saat latihan, murid yang menjadi peran sebagai Pangeran belum datang dan Guru In memilih Shone untuk menggantinya, saat Shone ingin mencium Nam, Nam langsung berpikir bahwa itu bukanlah Shone lalu dia menepis dan jatuh dari tempat tidur, Shone langsung membantunya. Di belakang panggung Nam menemukan sebuah apel yang sudah sedikit digigit yang ia kira digigit oleh Koy.
Nam terpilih menjadi mayor drum band, karena kecantikannya, teman akrab Shone, Top, pria terpopuler di sekolah menyukai Nam, Nam berlatih sekuat tenaga dan saat tiba dimana dia menjadi mayor, dia mencari Shone.
Saat Valentine tiba, Nam mendapatkan banyak hadiah dari banyak lelaki, tapi dia tidak menyukainya, karena dia menunggu hadiah dari Shone, lalu akhirnya Shone memberi bunga mawar putih yang ternyata Shone mengatakan bunga itu merupakan pemberian dari temannya. Dan saat sampai di rumah, Nam menemukan surat yang mengharuskan Nam pergi ke lantai 3 pada jam 4 sore, Nam mengikuti perintah itu, dan Shone menaiki tangga, menyusul Nam, Nam mengira surat itu pemberian dari Shone, yang ternyata surat itu dari Top, Top menyatakan cintanya pada Nam, dan menawarkannya menjadi pacar Top (didepan Shone) lalu Nam bertanya kepada Shone tentang apa yang dilakukannya, Shone hanya berkata bahwa dia hanya ingin bertanya, apa yang dilakukan Nam di atas dan pergi.
Saat Cheer ulangtahun, Teman-teman Top berkumpul (Nam juga ikut) Nam pergi ke jembatan untuk mencari Shone, Shone menceritakan dia pernah memegang tangan wanita yang jatuh dari panggung (Nam) lalu tiba-tiba Top datang, mereka bertiga kembali dan tiba-tiba kaki Nam terkilir, Top dan Shone membantunya, Top menggendong Nam. Setelah sampai di rumah, Nam langsung pergi ke rumah Cheer untuk merayakan ulangtahunnya, namun Cheer dan teman-temannya sedang tidak ada di rumah. Cheer, Gei, dan Nim merasa Nam lebih sombong karena Nam sudah bisa mendekati Shone.
Ake (kakak kelas Nam, teman Shone, Top, dll) ulangtahun, Nam diajak oleh Top untuk menghadiri pesta tersebut, Top dan Shone bercerita masa lalunya, saat kelas 5 mereka mencintai gadis yang sama, namun karena itu persahabatannya mulai rapuh dan akhirnya mereka sepakat untuk tidak mencintai perempuan yang sama, Nam terkejut. Saat Top dan Shone berdansa, Top mengajak Nam untuk ikut, dan Top mencium Nam. Nam pulang bersama Top dan Nam mengatakan agar Top tidak pernah menjemputnya lagi dan Nam hanya mencintai 1 orang. Top menemui Shone, dan berkata pada Shone untuk jangan pernah pacaran dengan Nam, karena dia tidak mau sahabat karibnya pacaran dengan perempuan yang dia cintai.
Ayah Shone mengatakan Shone akan dipindahkan ke Bangkok dalam waktu dekat. Nam kembali bersama teman-temannya dan mengabarkan bahwa Nam mendapatkan peringkat 1, yang artinya Nam akan pergi ke Amerika.
Kelulusan sudah tiba, Nam menyatakan cintanya pada Shone di dekat kolam renang, Shone menerima bunga yang dikaitkan kancing oleh Nam, lalu Nam menyadari bahwa Shone sudah memiliki kekasih yakni Pin, Nam berbohong, mengatakan mereka berdua serasi dan saking gugupnya, Nam tercebur ke dalam kolam, lalu pergi meninggalkan Shone, dan Nam bertemu Pin lalu memeluknya.
Saat pulang, Shone bertemu manager Bangkok Glass di rumahnya dan menemukan kotak es krim yang masih tersimpan yang diberikan oleh Nam, Shone teringat pada Nam lalu membuka album khusus foto yang berisi foto-foto Nam, yang ternyata hal yang dipikirkan Nam sangat berbeda dengan aslinya, seperti, Shone mengatakan saat drama, Nam terlihat sama saja yang berarti "sama saja, selalu cantik" dan Shone sangat senang sekali ketika memegang tangan Nam, lalu sebuah apel yang digigitnya sedikit (ternyata bukan Koy yang mengigit) dan bunga yang Shone tanam sendiri dari mulai masih biji menjadi bunga yang lebat, dan akhirnya dia mengatakan bunga tersebut merupakan dari temannya, karena dia merasa gugup, lalu saat Top menyatakan cintanya pada Nam, Shone pergi menuruni tangga dan putus asa, saat Nam menjadi mayoret, Shone rela berlari-lari untuk mengambil gambar Nam, lalu saat kaki Nam terkilir, Shone sangat ingin menggendong Nam, dan saat Top mencium Nam, Shone patah hati. Dan menaruh album foto tersebut didepan rumah Nam, karena keesokan hari Shone harus pergi ke Bangkok.
9 tahun kemudian, Nam menjadi designer terkenal di New York dan ia diundang oleh salah satu talk show, dalam talk show tersebut, Nam dipertemukan kembali oleh Shone yang telah berhasil dalam Bangkok Glass dan menjadi fotografer, Shone berkata bahwa kancing yang diberikan oleh Nam bukan miliknya, melainkan milik Ping, dan Nam bertanya apakah Shone sudah menikah, Shone menjawab dia sedang menunggu seseorang yang yang datang dari USA (Nam)
Rabu, 26 November 2014
Selasa, 25 November 2014
19.51
Unknown
Sinopsis "99 Cahaya di Langit Eropa"
Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, aku merasakan hidup di suatu negara dimana Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya spiritualku untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda.Tinggal di Eropa selama 3 tahun adalah arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya aku menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia. Pencarianku telah mengantarkanku pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Aku tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam.
Eropa dan Islam. Mereka pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Aku merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya.
Pertemuanku dengan perempuan muslim di Austria, Fatma Pasha telah mengajarkanku untuk menjadi bulir-bulir yang bekerja sebaliknya. Menunjukkan pada Eropa bulir cinta dan luasnya kedamaian Islam. Sebagai Turki di Austria, Ia mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal meluluhkan Eropa dengan menghunus pedang dan meriam. Kini ini ia mencoba lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan lebarnya senyum dan dalamnya samudra kerendahan hati.
Aku dan Fatma mengatur rencana. Kami akan mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Dan entah mengapa perjalanan pertamaku justru mengantarkanku ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban Eropa.
Di Paris aku bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepadaku bahwa Eropa juga adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Marion membukakan mata hatiku. Membuatku jatuh cinta lagi dengan agamaku, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh damai dan kasih.
Museum Louvre, Pantheon, Gereja Notre Dame hingga Les Invalides semakin membuatku yakin dengan agamaku. Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan
Perjalananku menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan oleh Islam di benua ini. Cordoba, Granada, Toledo, Sicilia dan Istanbul masuk dalam manifest perjalanan spiritualku selanjutnya.
Saat memandang matahari tenggelam di Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, aku bersimpuh. Matahari tenggelam yang aku lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan toleransi antar umat beragama.
Akhir dari perjalananku selama 3 tahun di Eropa justru mengantarkanku pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkanku pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna.
Aku teringat kata sahabat Ali RA:
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra di mana banyak ciptaan ciptaan Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.(Ali bin Abi Thalib RA)
19.40
Unknown
Alkisah… hiduplah
seorang bocah bernama Carl Fredricksen yang pendiam dan pemalu, namun
sangat suka dengan cerita-cerita petualangan. Bocah ini mengidolakan
seorang penjelajah tersohor bernama Charles Muntz. Suatu hari, ketika
dia sedang berimajinasi melakukan petualangan, dengan berlari memegang
sebuah balon gas, dia dikagetkan oleh teriakan seorang bocah dari sebuah
rumah tua. Penasaran, dia pun masuk dan menemukan seorang bocah
perempuan bernama Ellie sedang bermain petualangan. Sendirian saja,
berdua jika dihitung dengan seekor tikus (atau marmut?) di sana. Dengan
rasa takut-takut sesudah dibentak-bentak oleh anak perempuan itu, yang
ternyata juga mengidolakan Charles Muntz, mereka lalu berteman. Sebuah
pertemanan yang ditandai dengan terjatuhnya Carl dari bagian atas loteng
saat didorong untuk mengambil balonnya yang terlepas. Pertemanan mereka
digambarkan begitu akrab, dengan dua karakter berbeda: Carl yang pemalu
dan pendiam, serta Ellie yang tomboy dan lasak.
Tahun-tahun
berlalu. Dan mereka pun menikah. Berbulan madu dan berbahagia untuk
sejenak, mempersiapkan diri untuk kedatangan seorang anak. Namun
kebahagiaan itu terputus, ketika dokter kemudian mengatakan bahwa Ellie
tak bisa hamil. Film menjadi murung, dimana Carl digambarkan
tertegun-tegun dari balik jendela, melihat istrinya bermenung penuh
kesedihan. Tetapi Carl tidak putus asa. Dia mendorong Ellie untuk
bersemangat hidup kembali. Mengingatkan Ellie pada cita-cita masa kecil
mereka untuk suatu hari bisa berpetualang ke Paradise Falls,
sebuah lokasi berair-terjun indah yang pernah diceritakan oleh Charles
Muntz sebagai tempat petualangannya. Ellie kembali ceria. Dan mereka pun
mulai menabung sedikit demi sedikit untuk bisa mewujudkan mimpi mereka.
Namun, mimpi itu
terkendala terus-menerus. Uang yang mereka tabung, berkali-kali harus
mereka buka untuk hal-hal lain yang lebih perlu dan lebih mendesak.
Tahun-tahun berlalu, dan mereka hidup berdua tanpa anak sampai beranjak
tua dan memutih rambut di kepala. Suatu hari, Carl kembali teringat pada
mimpi-mimpi mereka. Diam-diam Carl membeli tiket ke Amerika Selatan,
tempat dimana air terjun idaman Ellie berada, dan berencana memberi
kejutan pada Ellie. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak:
Ellie jatuh sakit dan meninggal dunia. Meninggalkan Carl hidup sendirian
di hari tua. Carl yang menjadi lebih pendiam dan lebih tertutup. Carl
yang bertahan untuk tak meninggalkan rumah kenangan mereka, ketika di
sekelilingnya pembangunan kota sudah mendesak keberadaan rumahnya. Carl
yang kesepian dan sendirian di usia senja…. . .
Untuk
spoilercerita selanjutnya silakan lihat video di sini dan di sana, atau dibaca di sini atau di sana. Selain tak ingin spoiler
berkepanjangan, aku melihat bahwa dua cuplikan cerita di atas merupakan
cerita terbagus dan menjadi inti dari keseluruhan cerita di film ini.
Cerita di masa kehidupan Carl dan Ellie adalah cerita paling humanis dan
paling manis dalam film ini. Untaian cerita yang membuatku
merenung-renung juga hingga pengen menuliskan sesuatu di sini.
Sedikit-banyak, kisah Carl dan Ellie ini mengingatkanku pada sebuah cerita lama: Love Story, sebuah novel karya Erich Segal
yang diterbitkan pada tahun 1970. Novel cinta paling manis yang pernah
kubaca di masa SMA. Sosok Carl seperti Oliver Barrett IV, seorang
mahasiswa Harvard dan pewaris kekayaan keluarga Barrett. Sementara Ellie
seperti Jennifer Cavilleri, seorang mahasiswi yang nyambi jadi
penjaga pustaka dan putri dari seorang pembuat roti. Tentu saja tak
persis sama, namun sempat membuatku curiga bahwa mungkin ada pengaruh
novel tersebut dalam naskah film Up ini. Terutama sisipan tragedi
kematian Ellie yang sama seperti kematian Jennifer dalam Love Story.
Namun, selain dari keteringatan pada
novel lawas itu, kisah Carl dan Ellie ini -terutama kisah kesendirian
Carl- mengingatkanku pada ayahku sendiri. Pada orang-orang yang sudah
ditinggal mati oleh pasangan hidupnya. Mungkin juga cerminan seperti apa
aku dan istriku nanti jika salah satu dari kami berpendek usia.
Setahun lalu ibuku meninggal. Dan aku
masih ingat bagaimana di hari-hari dan bulan-bulan di tahun lalu, aku
melihat wajah murung ayahku. Jika kukatakan di saat itu aku patah
semangat, seperti kuocehkan di postingan ini, mungkin lebih patah lagi semangat beliau. Yang membedakan cuma ekspresi, antara aku yang mellow-mellow menampakkan kesedihanku, dan beliau yang mendiamkannya seperti karakter beliau yang memang cenderung pendiam.
Aku masih ingat di hari beliau pulang ke
rumah di suatu siang, ketika sudah sebulan ibuku meninggal, dan termangu
memandang potret ibuku di dinding. Lalu menurunkannya dan membawanya
pergi. Tak mengatakan apa-apa. Hingga kemudian aku melihat bahwa potret
itu beliau letakkan di dinding dekat meja kerja beliau di toko. Beliau
berkata, bahwa umpama pun beliau terpikirkan untuk menikah kembali, jika
saja lebih muda dari hari ini, istri beliau itu tak akan tergantikan di
hati. Hal yang membuat beliau masih tak menikah lagi hingga hari ini,
meski ada beberapa orang yang suka ikut campur urusan rumah tangga orang
lain, menghasud beliau untuk menikah kembali dengan alasan agar ada
yang mengurus. Namun beliau masih sendirian, tak seperti perangai
beberapa orang yang pernah kulihat: belum setahun istri meninggal dunia,
sudah lekas berganti lain wanita.
Betapa tidak? Jika usiaku mendekati
30-an, maka mereka sudah kenal-mengenal 30 tahun lebih. Bukan waktu yang
singkat untuk menjalani kehidupan rumah tangga sebagai suami-istri.
Bersetia susah-senang berdua. Dari masih tinggal di ruko dengan atap
seng bocor dan ember menjalankan fungsinya sebagai penampung air hujan,
sampai membangun rumah sendiri yang jauh di atas kategori RSSS sebagai
ujian harta dari Tuhan. Melalui bersama masa-masa jaya dan sengsara
usaha dagang keluarga. Melewati tahun-tahun bahagia dan tahun-tahun
suram dalam kehidupan mereka.
Di hari ibuku meninggal, setelah ibuku
dimakamkan, ayahku tersandar di dinding garasi, di atas karpet yang
dibentangkan untuk orang-orang datang bertakziah. Sebelah tangan
mengurut-urut keningnya sendiri, berpejam mata, dan raut wajah nampak
berduka. Seumur hidup usiaku, cuma dua kali aku melihat beliau begitu
murung dan pendiam: saat nenekku (ibu beliau) meninggal, dan saat ibuku
meninggal.
Ekspresi kesedihan Carl yang termenung di
gereja, dengan menggenggam balon di tangannya, adalah ekspresi yang
pernah kulihat di depan mataku sendiri. Ekspresi seorang tua berupa
wajah ayahku, juga wajah ayah beberapa sahabatku. Yang membedakan
mungkin cuma cara mereka menjalani hari-hari setelah ketiadaan istri
mereka lagi.
Dan jelas berbeda dengan Carl adalah:
ketiadaan anak di hari tua. Mungkin ayahku dan beberapa lainnya termasuk
diantara yang beruntung, karena memiliki anak-anak yang menjagai mereka
ketika istri mereka sudah tiada. Tapi ini juga bukan sebuah perkara
pasti, bersebab kenyataan seperti yang bisa kita temui pula. Kenyataan
berupa ada anak-anak yang tak mempedulikan orang tua mereka. Kenyataan
berupa panti jompo para manula.
Meski aku tahu dan sering mendengar bahwa
panti jompo tak sehina yang dikira orang, tapi sampai hari ini aku
masih merasa tak nyaman dengan sesuatu bernama panti jompo. Aku pernah
datang ke panti jompo, mengawani kawan cari bahan tulisan. Tak tahan
lama aku di sana, keluar ke pekarangan dengan perut mual. Bukan bersebab
ada nenek-nenek muntah seperti balita. Bukan pula karena bau tak
menyenangkan di dalam sana. Tapi rasa iba yang menggumpal di dalam
dadaku.
Sebahagia apapun katanya mereka di situ,
aku masih sukar menerima betapa tega seorang anak, dengan alasan
kesibukan mereka, melemparkan orang tua kandung sendiri ke sebuah
bangunan dimana orang-orang tua diletakkan seperti rongsokan menunggu
karatan. Aku pernah ceritakan ini pada istriku, di kala kami belum
menikah. Mungkin benar bahwa terkadang ada orang tua yang ikhlas meminta
dipindahkan ke panti jompo. Tapi perasaanku tak pernah mengizinkan diri
untuk menolerir hal seperti ini. Sungguh betapa tengik menjadi anak,
sesudah dilahirkan dan dibesarkan, dengan berak dan kencing kita
mengotori baju dan tangan orang tua kita, dan demi kebutuhan si anak
memamah-biak mereka rela berpeluh-keringat mencari rezeki; lalu di hari
tua mereka enak kita sepak ke sebuah tempat asing, kita buang dari rumah
mereka sendiri, dari rumah anak kandung mereka sendiri: cuma karena
alasan sibuk dan tak sempat mengurusi?
Ini sikap biadab menurutku. Memualkan.
Dan lebih memualkan karena kenyataan bahwa mereka, anak-anak yang
mengoperkan orang tuanya seperti bola ke panti para manula, adalah orang
yang beragama. Satu suku bangsa dan satu agama pula denganku. Meski aku
bukan seorang alim-religius-sangat, terang-benderang di telingaku masih
mengiang ajaran Quran: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya
atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan
yang mulia”. (Q.S Al Israa’, 17:23).
Aku berkisah pada istriku, bahwa
keenggananku untuk meninggalkan Aceh dahulu, setelah liar keluyuran
kemana-mana sampai meninggalkan bangku kuliah, adalah karena ibuku
sakit. Dan bahwa, sesudah kami menikah, aku berkehendak untuk tinggal di
sini, adalah karena ayahku adalah satu-satunya orang tuaku yang
tersisa. Sudah menjulang tinggi usia. Seperti kini, di sela-sela
kepulanganku ke daerah kelahiran ini, karena kurasa walau sejenak,
sebelum nanti lahir anak, dapat aku berdekat-dekat dengan ayahku.
Siklus hidup memang terkadang kejam dan
menginjak perasaan. Tapi jika sedapat mungkin dielakkan, maka aku
berkehendak mengelakkan apa yang mungkin bagi orang lain adalah biasa.
Ambil misal: ayahku dan ibuku dulu pun mesti lah meninggalkan kedua
orang tua mereka, dan mengasihi anak-anak mereka, seperti mereka
dikasihi pula. Hal yang mungkin akan sama kulakukan dengan istriku, jika
Tuhan memberi kami anak dalam pernikahan kami.
Tapi, ayah dan ibuku juga tak lupa
mengajarkan satu hal, meski secara tak langsung: yaitu berbakti pada
orang tua mereka, dan sedapat-dapatnya menyenangkan hati mereka, meski
sudah membina keluarga sendiri. Almarhumah ibuku, misalnya: sewaktu
beliau masih hidup, sering beliau menyuruhku mengantarkan satu sak beras
dan sejumlah uang untuk orang tua beliau. Sejak ayah beliau masih
hidup, sampai ibu beliau menyusul kakek kami ke alam barzah.
Sekali waktu aku menceletuk: apa perlu benar diantar-antar. Mereka toh
tidak hidup kekurangan. Hampir semua anak mereka ada memberi. Tak akan
mereka kelaparan. Ibuku marah. Marah nian. Bagi beliau bukan soal apakah
akan dimakan, apakah akan dijual kembali beras itu, atau malah
diberikan ke orang lain; itu tak jadi soal bagi beliau. Seperti apa
beliau dulu diberi makan, seperti itu pula beliau hendak berbakti. Tak
peduli bahkan meski suami beliau, ayahku sendiri, ada juga memberi.
Beliau cuma hendak merasakan kepada orang tua beliau sedikit rezeki yang
beliau terima sebagai gaji seorang guru, rezeki yang tak akan ibuku
dapatkan tanpa jerih payah orang tua beliau melahirkan dan membesarkan
beliau.
Aku tertegun-tegun dan meminta maaf.
Sampai hari ini masih kuingat betapa iba hati ibuku hari itu. Ingatan
yang meski pun kusyukuri sebagai pelajaran tersendiri, namun kusesalkan
juga pernah berucap demikian. Lebih besar sesal lagi, adalah
ketakmampuanku hendak mengikuti jejak ibuku berbuat yang sama pada
beliau, karena beliau sudah duluan meninggalkan kehidupan ini.
Itu pula kenapa di hari ulang tahun ibu
istriku, aku mengirimkan ucapan pada beliau betapa besar terimakasihku
bahwa beliau mengizinkan aku menganggap beliau sebagai ibuku sendiri,
meski jelas ibu kandung tak akan pernah berganti. Namun, seperti
kubilang pada istriku, setidaknya Tuhan memberiku kesempatan lain untuk
berbakti sekecil apapun pada ibunya, sebagai ganti dari apa yang belum
selesai kubaktikan pada ibuku sendiri.
Ada satu kekeliruan yang sering kulihat
dari mereka yang sudah menikah: menganggap bahwa mereka sudah mandiri
dan mesti mengasingkan diri. Benar bahwa pernikahan adalah seperti
membentuk koloni baru. Tapi, tak seperti koloni-koloni yang merdeka jadi
negara, hubungan manusia tidaklah sama. Ada keterikatan tersendiri yang
tak bisa lekang begitu saja. Seperti air yang tak putus dicencang pisau
setajam mata.
Aku sering bercerita begini, baik sesudah
atau sebelum menikah. Dan jauh sebelum aku menonton adegan Carl dan
Ellie di film Up tersebut. Mungkin karena sering melihat dan
merenung-renung kehidupan yang sudah kujalankan, yang belum terlalu tua
dan tentu saja belum terlalu matang bijaksana. Umpama, soal mengasingkan
diri itu. Aku bilang pada istriku, bahwa sebesar apapun rasa cinta
antara kami, jangan membutakan hati hingga tak elok dengan saudara
sendiri, apalagi menjauhkan diri dari orang tua sendiri.
Kami, seperti semua pasangan di bumi ini,
kenal-mengenal dan berjalin-hubungan tak lebih lama daripada dengan
keluarga sendiri, dengan orang tua sendiri. Sebelum kita mencintai satu
sama lain, ada cinta orang tua yang sudah lebih dahulu membesarkan kita.
Meski pun, dengan dalih agama, aku bisa berkata bahwa istriku
selayaknya patuh dan taat padaku, bahkan di atas orangtuanya sendiri,
sejak ayahnya mengijab-qabulkan putrinya kepadaku; namun tak ada minatku
untuk mempraktekkan kesetiaan sebudak itu. Aku memberinya nafkah baru
seumur jagung. Aku mengasihinya, belum sampai separuh usiaku. Tak masuk
akal dan perasaanku bahwa dia boleh tak menghiraukan orang tuanya cuma
demi seorang laki-laki yang menjadi suaminya, yang belum sepuluh tahun
hitungan jari dikenalnya dalam hidupnya.
Aku tak menginginkan kecintaan buta
seorang perempuan, seperti aku tak menginginkan diriku sendiri
terbutakan oleh cinta pada perempuan. Kukira, meski usia menjulang
tinggi dan orang sepertiku juga tak bisa mengelak dari tuntutan zaman,
dari kesibukan harian, dari kedewasaan yang sering merenggangkan kita
dengan masa lalu: aku masih boleh mencoba sekuasa diri, untuk tetap
menjadi anak dari seorang ayah, orang tuaku yang tersisa kini.
Selama di sini, ada satu rutinitasku yang
sempat membuat adikku bingung: berhujan di hari petang untuk
mengantarkan mobil pada ayahku. Ini biasa jika hujan turun lebat, atau
cuaca sudah tampak mendung dan kuduga ayahku lupa membawa mantel (jas
hujan) beliau. Jika sedang di rumah, mobil kukeluarkan dari garasi dan
langsung mengantar ke toko. Jika aku sedang di luar rumah, maka
pulanglah aku segera, menembus hujan, lalu baju yang basah kuyup (jika
tak mengenakan jas hujan) kumasukkan ke dalam plastik dan kubawa serta
dengan mobil ke toko. Di toko, aku mengganti kunci mobil dengan kunci
motor, lalu berganti pakaian di gudang toko, dan kembali berhujan pulang
ke rumah.
Ketika adikku bertanya, aku mencengir
saja. Alasanku sederhana pada mereka: ayah sudah tua, dan baru sembuh
demam, mana kuizinkan beliau pulang atau terkurung hujan begitu saja.
Dan perkara aku sendiri berhujan-hujan, anggaplah sekedar masa kecil kurang bahagia, atau hendak mengenang-ngenang rasa girang saat masih bocah berbasah diri merasakan air hujan turun ke bumi.
Namun pada istriku aku bertutur lebih
lanjut: biar pun ada temanku menganggapku aneh dan berlebihan, cuma
karena perkara hujan saja, atau mentang-mentang ada mobil, lalu
bertindak selebay itu, bagiku ini soal apa yang bisa kau
lakukan pada orang tuamu. Benar memang, ada penemuan modern dan canggih
bernama jas hujan. Tapi… Jas hujan manalah cukup untuk tubuh seorang
tua? Tuhan sudah memberi kemudahan pada kehidupan, kenapa mesti kikir
untuk memanfaatkan? Aku tak ingin jika kelak ayahku meninggal, atau aku
mati, ada rasa sesalku di dalam hati bahwa cuma karena hujan saja aku
enggan berbasah diri mengantarkan beliau mobil demi memastikan beliau
pulang tanpa perlu khawatir kehujanan. Aku masih ingat di masa kecil
dulu, ayahku membuka jaketnya dan melindungiku dari air hujan ketika
masih bocah dibawa berjalan-jalan di sore hari. Aku masih ingat ketika
ayahku, di masa sulit kehidupan kami, keluar dalam hujan saat demam
badanku meninggi demi membeli obat dan makanan idamanku. Lalu, di
hari-hari menjelang kelahiran anakku dalam bulan-bulan ini, tidakkah
boleh aku mencicicipi sedikit rasa hendak menjadi seorang anak bagi
beliau?
Tidakkah agama juga mengajarkan begini?
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al Israa’, 17:24)
Aku sungguh tak ambil pusing bahwa apa
yang kutuliskan ini akan mengurangi pahala atau menjadi dosa karena
mungkin dianggap riya. Dosa-pahala urusan Tuhan belaka. Aku tak
terobsesi dengan pahala, tak tahu berapa nilai pahala untuk tiket ke
surga. Dengan atau tanpa pahala, aku akan berbuat hal yang sama. Dengan
atau tanpa pahala, aku berharap anakku kelak membaca tulisan ini, jika
blog dan hostingan gratisan ini bertahan lama, baik saat aku masih hidup
atau sudah mati, dan berharap dia memiliki perasaan sama. Baik padaku,
terlebih pada ibunya.
Sehingga, aku dan anakku kelak masih akan sama-sama menghormati setiap orang tua. Mengasihi mereka, meski mungkin dia akan sama berandal
sepertiku dulu. Aku tak menuntut anakku jadi orang sukses, jadi orang
terhormat atau jadi orang mapan. Apa arti itu semua, jika hidup tanpa
perasaan. Hidup tanpa perasaan, tanpa mencintai orang tua, adalah hidup
yang lebih rendah dari binatang, hidup yang untuk makan-minum, berak dan
memamah-biak.
Sungguh, orang tua sendirian di usia
senja, tidaklah hal yang nyaman kukira. Aku memang belum menua seperti
mereka. Seperti Carl atau ayahku pula. Tapi aku tak tega melihat
orang-orang bersedih di usia kalasenja. Ini sebab di usia begini rupa,
aku masih sudi nian menunaikan apa yang katanya bakat anak sungsang:
mengoleskan balsem untuk memijat ayahku, seperti rasa senangku bisa
mengoleskan balsem mengurut ibuku saat beliau hidup dulu. Bukan hal-hal
spektakuler. Bukan sebuah kebanggaan bertrofi. Tapi aku bisa bersaksi
kepada Tuhan di hari penghakiman kelak: sebangsat-sejahanam apapun
hidupku, aku pernah mengasihi orang tuaku. Tidak meninggalkan dan
melupakan mereka ketika dewasa, ketika usia orang tua sudah seperti
matahari di ufuk senja.
18.58
Unknown
Harry Potter adalah seri tujuh novel fantasi yang dikarang oleh penulis Inggris J. K. Rowling. Novel ini mengisahkan tentang petualangan seorang penyihir remaja bernama Harry Potter dan sahabatnya, Ronald Weasley dan Hermione Granger, yang merupakan pelajar di Sekolah Sihir Hogwarts. Inti cerita dalam novel-novel ini berpusat pada upaya Harry untuk mengalahkan penyihir hitam jahat bernama Lord Voldemort, yang berambisi untuk menjadi makhluk abadi, menaklukkan dunia sihir, menguasai orang-orang nonpenyihir, dan membinasakan siapapun yang menghalangi jalannya, terutama Harry Potter.
Sejak dirilisnya novel pertama, Harry Potter and the Philosopher's Stone (di Indonesia diterbitkan dengan judul Harry Potter dan Batu Bertuah) pada tanggal 30 Juni 1997, seri ini telah mendapatkan popularitas besar, berbagai pujian kritis, dan kesuksesan komersial di seluruh dunia.[1] Beberapa kritikus juga melontarkan kritikan negatif, terutama karena temanya yang gelap. Pada Juni 2011, seri ini telah terjual sekitar 450 juta kopi di seluruh dunia, menjadikannya sebagai novel seri paling laris sepanjang masa, dan telah diterjemahkan ke dalam 67 bahasa.[2][3] Empat novel terakhir secara berturut-turut mencetak rekor sebagai buku dengan penjualan tercepat dalam sejarah.
Dengan memuat banyak genre, termasuk fantasi dan bildungsroman (dengan unsur misteri, thriller, petualangan, dan roman), seri ini telah melahirkan banyak makna dan referensi budaya.[4][5][6][7] Menurut Rowling, tema utama dalam seri ini adalah kematian.[8] Terdapat juga tema lainnya, seperti prasangka dan korupsi.[9]
Penerbit awal novel-novel Harry Potter adalah Bloomsbury di Britania Raya dan Scholastic Press di Amerika Serikat. Di samping itu, seri ini telah diterbitkan oleh berbagai penerbit di seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Keseluruhan novel, dengan novel ketujuh dibagi menjadi dua bagian, telah diadaptasi menjadi delapan seri film oleh Warner Bros. Pictures, dan menjadi film seri paling sukses sepanjang masa. Seri Harry Potter juga telah menghasilkan berbagai merek dagang yang berhubungan dengan cerita, menjadikan merek Harry Potter bernilai lebih dari $15 milyar.[10] Selain itu, terkait dengan kesuksesan novel dan film-filmnya, Rowling telah menjadi penulis terkaya sepanjang sejarah kesusasteraan.[11] Harry Potter juga dijadikan sebagai tema taman hiburan seperti The Wizarding World of Harry Potter di Islands of Adventure, Universal Parks & Resorts.
Novel ini mengisahkan tentang Harry Potter, seorang anak laki-laki yatim piatu yang pada usia sebelas tahun mengetahui bahwa ia adalah seorang penyihir, hidup dalam dunia biasa nonsihir, atau Muggle.[12] Kemampuan sihirnya adalah bawaan dan ia diundang untuk menghadiri sekolah yang mengajarkan tentang keterampilan dan pengetahuan sihir.[13] Harry kemudian menjadi pelajar di Sekolah Sihir Hogwarts, dan di sana sebagian besar kisah novel berlangsung. Di Hogwarts, Harry melalui masa-masa remajanya, ia belajar untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya: sihir, sosial dan emosional, termasuk permasalahan remaja biasa seperti cinta, persahabatan, dan ujian sekolah, serta ujian terbesar untuk mempersiapkannya dalam menghadapi konfrontasi yang ada di depannya.[14]
Setiap novel mengisahkan tentang satu tahun kehidupan Harry,[15] dengan peristiwa novel yang berlangsung antara tahun 1991-1998.[16] Kisah novel ini juga mengandung banyak kilas balik, yang sering dialami oleh Harry saat melihat kenangan karakter lain melalui benda sihir yang disebut Pensieve.
Lingkungan pengisahan yang dibuat oleh Rowling benar-benar terpisah dari realitas, namun masih terkait erat satu sama lainnya. Jika tanah fantasi Narnia adalah dunia alternatif dan Dunia Tengah Lord of the Rings adalah dunia magis, maka dunia sihir Harry Potter secara paralel ada di dalam dunia nyata yang mengandung versi magis dari unsur-unsur biasa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Harry Potter, banyak institusi dan lokasi yang dikenali, misalnya London.[17] Dunia Harry Potter terdiri dari sekumpulan jalan-jalan tersembunyi yang diabaikan manusia biasa, tempat minum kuno, puri di wilayah sepi, dan kastil terpencil yang tidak terlihat oleh populasi Muggle.[13]
Dalam bab pertama di novel pertama, Harry Potter dan Batu Bertuah, dikisahkan bahwa peristiwa yang luar biasa telah terjadi di dunia sihir, suatu peristiwa yang sangat luar biasa, bahkan para Muggle
melihat tanda-tandanya. Latar belakang mengenai peristiwa luar biasa
ini dan sosok Harry Potter diungkapkan secara bertahap sepanjang seri.
Setelah bab pendahuluan, kisah novel melompat bertahun-tahun kemudian,
saat sebelum ulang tahun kesebelas Harry Potter, dan pada titik ini,
latar belakang Harry Potter mulai terungkap.
Kontak pertama Harry dengan dunia sihir adalah melalui seorang manusia setengah raksasa bernama Rubeus Hagrid, penjaga dan juru kunci di Hogwarts. Hagrid mengungkapkan tentang sejarah masa lalu Harry.[18] Melalui cerita Hagrid, Harry mengetahui bahwa saat ia bayi, ia menyaksikan pembunuhan orangtuanya oleh seorang penyihir hitam jahat bernama Lord Voldemort, yang kemudian juga berupaya untuk membunuhnya.[18] Untuk alasan yang tidak diketahui, mantra yang dilontarkan oleh Voldemort untuk membunuh Harry berbalik kepadanya. Harry selamat dengan menyisakan bekas luka berbentuk sambaran petir di dahinya sebagai bukti atas serangan tersebut, dan Voldemort menghilang. Setelah selamat dari serangan Voldemort, Harry menjadi seorang legenda hidup dalam dunia sihir. Namun, atas perintah dari seorang penyihir terhormat dan terkenal bernama Albus Dumbledore, Harry yang yatim piatu dititipkan pada kerabat Muggle nya yang tidak menyenangkan, keluarga Dursley. Keluarga Dursley bersedia untuk merawat Harry, namun memutuskan untuk merahasiakan hal-hal magis darinya dengan harapan bahwa Harry akan tumbuh "normal".[18]
Dengan bantuan Hagrid, Harry bersiap untuk menjalani tahun pertamanya di Hogwarts. Harry pun mulai menjelajahi dunia sihir, pembaca akan diperkenalkan pada berbagai lokasi utama yang digunakan di sepanjang seri. Harry bertemu dengan sebagian besar karakter utama dalam seri, termasuk dua tokoh yang kelak akan menjadi sahabat baiknya: Ron Weasley, seorang penyihir yang berasal dari keluarga penyihir murni, kuno, namun miskin, dan Hermione Granger, seorang penyihir cerdas yang berasal dari keluarga nonpenyihir atau Muggle.[18][19] Di Hogwarts, Harry juga bertemu dengan guru ramuan Severus Snape, yang menunjukkan kebencian dan ketidaksukaannya pada Harry. Plot buku pertama diakhiri dengan konfrontasi antara Harry dan Lord Voldemort untuk kedua kalinya; Voldemort berupaya untuk memperoleh kembali keabadian dengan cara mendapatkan kekuatan dari Batu Bertuah, zat yang memberikannya kehidupan yang kekal, dan Harry beserta teman-temannya berusaha untuk menggagalkannya.[18]
Seri dilanjutkan dengan Harry Potter dan Kamar Rahasia, yang mengisahkan tentang tahun kedua Harry di Hogwarts. Harry dan teman-temannya menyelidiki misteri 50 tahun yang lalu terkait dengan peristiwa mencekam yang kembali terjadi di sekolah. Adik perempuan Ron, Ginny Weasley, menjalani tahun pertamanya di Hogwarts, dan menemukan sebuah buku harian yang ternyata merupakan buku harian milik Voldemort saat ia masih bersekolah di Hogwarts. Ginny dikuasai oleh Voldemort melalui buku hariannya dan menuntunnya untuk membuka jalan ke "Kamar Rahasia", melepaskan monster kuno yang menyerang para siswa di Hogwarts. Novel ini menggali tentang sejarah Hogwarts dan legenda seputar Kamar Rahasia. Untuk pertama kalinya, Harry mengetahui bahwa prasangka rasial mengenai "darah murni" dan "darah kotor" juga ada dalam dunia sihir, dan bahwa saat Voldemort berkuasa, penyihir keturunan Muggle atau "berdarah campuran" sering dijadikan sasaran teror. Harry juga mengetahui bahwa ia bisa berbicara Parseltongue (bahasa ular), pemilik kemampuan tersebut sangat jarang dan sering dikaitkan dengan Ilmu Hitam. Novel ini berakhir setelah Harry menyelamatkan kehidupan Ginny dengan membunuh Basilisk dan menghancurkan buku harian tersihir yang menjadi sumber masalah.
Novel ketiga, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, mengisahkan tentang tahun ketiga Harry di Hogwarts. Ini adalah satu-satunya novel Harry Potter yang tidak menampilkan Voldemort dalam ceritanya. Sebaliknya, Harry mengetahui bahwa ia menjadi target Sirius Black, seorang pembunuh yang melarikan diri dari penjara sihir, dan diyakini ikut terlibat dalam kematian orangtua Harry. Setelah Harry dilemahkan oleh dementor – makhluk sihir hitam yang memiliki kekuatan untuk melahap jiwa manusia – yang ditempatkan di Hogwarts untuk melindungi sekolah, Harry bertemu dengan Remus Lupin, guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang kemudian terungkap bahwa ia merupakan manusia serigala. Lupin mengajarkan Harry langkah-langkah pertahanan tingkat atas terhadap sihir hitam, terutama dementor, yang umumnya belum dipelajari oleh siswa seusianya. Harry kemudian mengetahui bahwa Lupin dan Black dahulunya adalah sahabat ayahnya, dan Black dijebak oleh teman mereka yang lainnya, Peter Pettigrew.[20] Dalam novel ini, terungkap bahwa tidak satupun guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang bertahan lebih dari satu tahun ajaran, dan hal ini selanjutnya berulang dalam novel-novel berikutnya.
Selama tahun keempat Harry di Hogwarts (dikisahkan dalam Harry Potter dan Piala Api),
Harry secara tidak terduga terpilih sebagai peserta Turnamen Triwizard;
kontes sihir berbahaya di mana Harry harus bersaing melawan
penyihir-penyihir "jagoan" dari sekolah-sekolah sihir lainnya, dan juga
siswa dari Hogwarts sendiri.[21] Selama turnamen, Harry dipandu oleh Profesor Alastor "Mad-Eye" Moody, yang kemudian diketahui adalah seorang penipu –salah satu pendukung Voldemort bernama Barty Crouch, Jr
yang menyamar. Pada titik ini, terjadi pergeseran pengisahan dari yang
sebelumnya hanya berupa firasat, dugaan, dan ketidakpastian, menjadi
suatu konflik terbuka. Rencana Voldemort dengan menyusupkan Crouch ke
dalam turnamen untuk membawa Harry padanya berhasil. Meskipun pada
akhirnya Harry berhasil lolos dari Voldemort, Cedric Diggory, wakil Hogwarts lainnya dalam Turnamen Triwizard, terbunuh, dan Voldemort kembali memasuki dunia sihir dengan fisik utuh.
Dalam buku kelima, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry kembali berhadapan dengan Voldemort yang baru bangkit. Dalam menanggapi kemunculan Voldemort, Dumbledore kembali mengaktifkan Orde Phoenix, yaitu perkumpulan rahasia yang bergiat dari rumah keluarga Sirius Black yang bertujuan untuk menghadapi pelahap maut Voldemort dan melindungi siapapun yang menjadi target Voldemort, terutama Harry. Meskipun Harry dan Dumbledore telah menjelaskan tentang kembalinya Voldemort, Kementerian Sihir dan kebanyakan masyarakat sihir lainnya menolak mempercayai bahwa Voldemort telah kembali.[22] Dalam upaya untuk melawan dan mendiskreditkan Dumbledore, Kementerian menunjuk Dolores Umbridge sebagai Inkuisitor Agung Hogwarts. Umbridge lalu mengubah Hogwarts menjadi rezim diktator dan melarang siswa mempelajari cara-cara untuk mempertahankan diri dalam melawan sihir hitam.[22]
Harry kemudian membentuk "Laskar Dumbledore", sebuah kelompok belajar rahasia di mana Harry bertugas untuk mengajari teman-temannya keterampilan sihir Pertahanan terhadap Ilmu Hitam tingkat tinggi yang telah ia pelajari. Harry mengetahui bahwa ada ramalan penting mengenai dirinya dan Voldemort, dan ramalan inilah yang telah memicu Voldemort untuk membunuh orang tua Harry.[23] Harry juga mengetahui bahwa ia dan Voldemort memiliki koneksi yang tidak diinginkan, dan menyakitkan setiap kali koneksi itu muncul, yang membuat Harry bisa menyaksikan tindakan Voldemort secara telepati. Dalam klimaks novel ini, Harry dan teman-temannya bertempur secara langsung menghadapi Pelahap Maut. Meskipun kedatangan tepat waktu para anggota Orde Phoenix menyelamatkan nyawa Harry dan teman-temannya, Sirius Black terbunuh dalam pertarungan ini.[22]
Dalam buku keenam, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Voldemort mulai melancarkan perang terbuka. Di Hogwarts, Harry dan teman-temannya yang beranjak remaja secara relatif terlindungi dari bahaya. Mereka terlibat dalam berbagai permasalahan remaja, dan Harry akhirnya mulai berkencan dengan Ginny Weasley. Di awal-awal cerita, Harry menemukan buku ramuan tua yang penuh dengan coretan dan instruksi-instruksi tidak resmi dari sang pemilik buku yang misterius; si "Pangeran Berdarah Campuran". Buku ini dengan cepat menjadi sumber kesuksesan Harry dalam kelas ramuan, namun karena berbagai mantra ilegal yang tertulis di dalamnya, buku ini juga menjadi sumber kekhawatiran, terutama dari Hermione. Pada tahun ini, Harry juga mengikuti pelajaran privat dengan Dumbledore, yang menunjukkan pada Harry berbagai kenangan tentang kehidupan awal Voldemort. Selama pelajaran privatnya, terungkap bahwa untuk mempertahankan hidupnya, Voldemort telah membagi jiwanya menjadi potongan-potongan, menciptakan serangkaian horcrux, benda dengan kekuatan jahat yang tersembunyi di berbagai lokasi, dan salah satunya adalah buku harian yang dihancurkan Harry dalam buku kedua.[24] Musuh Harry yang arogan, Draco Malfoy, berusaha untuk membunuh Dumbledore di sepanjang novel. Upaya Malfoy ini memuncak dengan terbunuhnya Dumbledore oleh Profesor Snape; si "Pangeran Berdarah Campuran" yang sebenarnya.
Novel terakhir dalam seri, Harry Potter dan Relikui Kematian, dimulai langsung setelah peristiwa dalam buku keenam. Voldemort sukses menguasai dan mengontrol Kementerian Sihir. Harry, Ron, dan Hermione memutuskan untuk tidak kembali ke Hogwarts dan memulai upaya mereka untuk menemukan dan menghancurkan horcrux Voldemort yang tersisa. Untuk memastikan keselamatan mereka sendiri serta keluarga dan teman-teman mereka, ketiganya terpaksa mengisolasi diri mereka di lokasi-lokasi yang tidak terlacak. Dalam petualangan mereka mencari horcrux, mereka bertiga mengetahui detil tentang masa lalu Dumbledore, tentang benda lainnya yang disebut hallow yang bisa digunakan untuk menangkal horcrux, serta motif Snape yang sebenarnya – ia bekerja untuk Dumbledore sejak pembunuhan ibu Harry.
Buku ketujuh ini memuncak dalam Pertempuran Hogwarts. Harry, Ron, dan Hermione beserta anggota Orde Phoenix, para guru, dan siswa Hogwarts, bertempur untuk mempertahankan Hogwarts dari Voldemort, Pelahap Mautnya, dan berbagai makhluk gaib. Beberapa karakter utama tewas dalam pertempuran gelombang pertama. Setelah mengetahui bahwa ia sendiri adalah horcrux, Harry menyerahkan dirinya kepada Voldemort, yang melontarkan kutukan maut padanya. Namun, para pejuang Hogwarts tidak menyerah. Meskipun mereka meyakini bahwa Harry telah tewas, mereka terus berjuang. Harry, yang sebenarnya berhasil kembali dari situasi antara hidup dan kematian dan kemudian berpura-pura mati, akhirnya menghadapi Voldemort, yang semua horcruxnya telah hancur. Dalam pertempuran berikutnya, Voldemort terbunuh oleh kutukannya sendiri yang berbalik. Di akhir novel, terdapat sebuah epilog yang menceritakan tentang kehidupan para karakter yang bertahan hidup dan keberlangsungan dunia sihir.
Novel-novel Harry Potter tergolong ke dalam genre sastra fantasi, namun, dalam banyak hal novel-novel ini juga bisa dikategorikan bildungsromans, atau novel transisi usia,[34] serta juga mengandung unsur-unsur seperti misteri, petualangan, thriller, dan roman. Harry Potter dianggap sebagai bagian dari kisah-kisah mengenai sekolah asrama anak di Inggris, sama seperti Stalky & Co. Rudyard Kipling, Malory Towers nya Enid Blyton, seri St. Clare dan Naughtiest Girl, serta Billy Bunter karya Frank Richards. Novel-novel Harry Potter berlatar tempat di Hogwarts, sebuah sekolah asrama fiksi untuk para penyihir di Inggris, dengan kurikulumnya yang mengajarkan tentang pendidikan sihir.[35] Secara tidak langsung, Harry Potter dipengaruhi oleh Tom Brown's School Days karya Thomas Hughes dan novel-novel era Victoria dan Edwardian lainnya yang menceritakan tentang kehidupan di sekolah publik Britania.[36][37] Menurut Stephen King, Harry Potter adalah "cerita misteri yang cerdik",[38] dan masing-masing novel dikembangkan dengan pendekatan misteri petualangan bergaya Sherlock Holmes. Cerita dikisahkan dari sudut pandang orang ketiga tunggal, kecuali dalam beberapa bab (misalnya dalam bab pertama Harry Potter dan Batu Bertuah, Piala Api, dan dua bab pertama Pangeran Berdarah Campuran).
Di tengah-tengah cerita di masing-masing novel, Harry menemui berbagai masalah dan melanggar berbagai peraturan sekolah saat berupaya untuk memecahkan permasalahan tersebut. Jika ada siswa yang tertangkap melanggar peraturan sekolah, maka mereka akan dihukum oleh profesor Hogwarts. Penggunaan hukuman ini sering ditemui dalam novel-novel dengan sub-genre sekolah berasrama.[35] Namun, cerita di masing-masing novel selalu mencapai klimaksnya pada waktu musim panas, mendekati atau setelah diselenggarakannya ujian akhir, dan Harry harus berhadapan dengan Voldemort atau salah satu Pelahap Maut nya, dengan taruhan hidup dan mati. Seiring dengan perkembangan seri, satu atau lebih karakter tewas dalam empat novel terakhir.[39][40] Sebagai dampaknya, Harry mulai mempelajari pelajaran-pelajaran penting melalui eksposisi dan berdiskusi dengan kepala sekolah sekaligus mentornya, Albus Dumbledore.
Dalam novel terakhir, Harry Potter dan Relikui Kematian, Harry dan teman-temannya menghabiskan sebagian besar waktu mereka jauh dari Hogwarts, dan hanya kembali ke sana untuk menghadapi Voldemort di bab-bab terakhir novel.[39] Untuk melengkapi format bildungsroman, dalam novel ini Harry mulai tumbuh dewasa, kehilangan kesempatan untuk menjalani tahun terakhirnya sebagai murid di Hogwarts, harus bertindak sebagai orang dewasa, dan masyarakat di dunia sihir bergantung pada keputusannya.[41]
Para akademisi dan jurnalis telah mengembangkan penafsiran lain yang terkait dengan tema dalam novel, beberapa di antaranya lebih kompleks daripada yang lain, dan beberapa yang lainnya juga menyatakan terdapat tema politik. Tema-tema seperti normalitas, penindasan, kelangsungan hidup, dan pemaksaan kehendak dianggap sebagai tema lazim yang terdapat di seluruh seri.[42] Selain itu, tema tentang perjalanan menuju masa remaja dan penderitaan juga terdapat dalam novel.[43] Rowling sendiri menyatakan bahwa bukunya terdiri dari "argumen berkepanjangan untuk toleransi, permohonan berkepanjangan untuk mengakhiri kefanatikan", dan juga untuk menyampaikan pesan mengenai "permasalahan kebijaksanaan dan tidak mengasumsikan bahwa pemaksaan dan tekanan akan memberitahumu seluruh kebenaran".[44]
Tema lainnya yang bisa ditemukan dalam novel adalah kekuasaan/penyalahgunaan kekuasaan, cinta, prasangka, dan pilihan bebas. Tema-tema ini, menurut Rowling, "sangat mengakar kuat di seluruh plot cerita", penulis lebih suka membiarkan tema "tumbuh secara alami", daripada berusaha untuk menyampaikan ide-ide tersebut kepada para pembaca.[9] Tema lainnya yang selalu ada dalam cerita adalah masa remaja. Menurut Rowling, penggunaan tema ini bertujuan untuk menggambarkan perkembangan seksualitas karakternya dan tidak membiarkan Harry "terjebak dalam situasi pra-remaja permanen".[45] Rowling menyatakan bahwa menurutnya, signifikansi tema moral dalam cerita tampak "jelas menyilaukan". Kunci cerita menurut Rowling adalah pilihan antara apa yang benar dan apa yang mudah, "karena hal itu adalah bagaimana tirani dimulai, dengan orang-orang apatis yang mengambil rute mudah dan tiba-tiba menemukan dirinya dalam kesulitan besar."[46]
Pada tahun 1990, Rowling berada di kereta yang penuh sesak dari Manchester ke London ketika ide mengenai Harry tiba-tiba "jatuh ke kepalanya". Rowling memberikan penjelasan tentang pengalamannya di situs webnya:[47]
Rowling menyelesaikan Harry Potter dan Batu Bertuah pada tahun 1995 dan naskah novel itu dikirimnya pada beberapa agen penerbitan.[48] Agen kedua yang dikiriminya naskah, Christopher Little, menawarkan untuk mewakilinya mengirimkan naskah tersebut pada penerbit Bloomsbury. Setelah ditolak oleh delapan penerbit, Bloomsbury akhirnya menawari Rowling uang muka sebesar £2.500 untuk menerbitkan novel tersebut.[49][50] Meskipun Rowling menyatakan bahwa ia tidak memiliki target khusus mengenai usia pembacanya ketika ia mulai menulis buku-buku Harry Potter, penerbit pada awalnya menetapkan target pembacanya adalah anak-anak yang berusia antara sembilan hingga sebelas tahun.[51] Pada malam sebelum penerbitan, Rowling diminta oleh penerbitnya untuk menggunakan nama pena yang lebih netral-gender,
supaya dapat menarik anak laki-laki dalam jangkauan umur tersebut,
karena mereka khawatir bahwa anak laki-laki tidak akan tertarik membaca
novel yang mereka ketahui ditulis oleh seorang wanita. Ia memilih untuk
menggunakan nama J. K. Rowling (Joanne Kathleen Rowling), menggunakan
nama neneknya sebagai nama keduanya karena ia tidak memiliki nama tengah.[50][52]
Harry Potter and the Philosopher's Stone diterbitkan oleh Bloomsbury, penerbit semua buku-buku Harry Potter di Britania Raya, pada tanggal 30 Juni 1997.[53] Novel ini diterbitkan di Amerika Serikat pada 1 September 1998 oleh Scholastic, yang menerbitkannya dengan judul Harry Potter and the Sorcerer's Stone,[54] setelah sebelumnya Rowling menerima bayaran sebesar US$105.000 untuk hak penerbitan di Amerika Serikat – harga yang sangat luar biasa bagi sebuah buku anak-anak yang dikarang oleh pengarang yang tidak dikenal pada saat itu.[55] Khawatir bahwa para pembaca di Amerika tidak akan mengerti kata "philosoper" atau tidak menganggapnya sebagai tema magis (meskipun "Philosoper's Stone" atau batu filsuf terkait dengan alkimia), Scholastic bersikeras untuk mengganti judul novel tersebut menjadi Harry Potter and the Sorcerer's Stone untuk pasar Amerika.
Buku kedua, Harry Potter dan Kamar Rahasia, awalnya diterbitkan di Britania Raya pada tanggal 2 Juli 1998 dan di AS pada 2 Juni 1999. Harry Potter dan Tawanan Azkaban kemudian diterbitkan setahun kemudian di Britania Raya pada 8 Juli 1999, dan di Amerika Serikat pada 8 September 1999.[56] Harry Potter dan Piala Api diterbitkan pada 8 Juli 2000 di waktu yang bersamaan oleh Bloomsbury dan Scholastic.[57] Harry Potter dan Orde Phoenix adalah buku terpanjang dalam seri, dengan tebal 766 halaman dalam versi Inggris dan 870 halaman dalam versi Amerika Serikat.[58] Orde Phoenix diterbitkan secara serentak di negara-negara yang berbahasa Inggris pada tanggal 21 Juni 2003.[59] Dua tahun kemudian, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran diterbitkan pada 16 Juli 2005, dan terjual sebanyak 9 juta eksemplar dalam waktu 24 jam setelah perilisannya di seluruh dunia.[60][61] Buku ketujuh sekaligus yang terakhir, Harry Potter dan Relikui Kematian, diterbitkan pada 21 Juli 2007.[62] Buku ini terjual sebanyak 11 juta eksemplar dalam 24 jam pertama setelah perilisannya, dengan rincian 2,7 juta eksemplar di Britania Raya dan 8,3 juta eksemplar di Amerika Serikat.[61]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Harry Potter dalam terjemahan
Seri ini telah diterjemahkan ke dalam 67 bahasa,[2][63] menjadikan Rowling sebagai salah satu penulis yang karyanya paling banyak diterjemahkan dalam sejarah.[64] Seri Harry Potter telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang beragam seperti Azerbaijan, Ukraina, Arab, Urdu, Hindi, Bengali, Wales, Afrikaans, Albania, Latvia dan Vietnam. Volume pertama telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahkan Yunani Kuno,[65] menjadikannya sebagai karya terpanjang yang diterbitkan dalam bahasa Yunani Kuno sejak novel Heliodorus of Emesa pada abad ke-3 M.[66]
Beberapa penerjemah yang disewa untuk menggarap novel-novel Harry Potter adalah penulis-penulis terkenal sebelum mereka menerjemahkan Harry Potter, misalnya Viktor Golyshev, yang menangani terjemahan Rusia untuk buku kelima. Terjemahan bahasa Turki untuk buku kedua sampai ketujuh dilakukan oleh Sevin Okyay, seorang kritikus sastra populer dan komentator budaya.[67] Untuk alasan kerahasiaan, terjemahan hanya dapat dimulai ketika novel yang ber bahasa Inggris sudah dirilis, dengan demikian ada jeda beberapa bulan sebelum novel diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Hal ini menyebabkan semakin banyaknya salinan dari edisi bahasa Inggris yang dijual kepada penggemar yang tidak sabaran di negara-negara non-bahasa Inggris. Di Perancis, karena tingginya minat untuk membaca buku kelima ini, Orde Phoenix edisi bahasa Inggris menjadi buku berbahasa Inggris pertama yang menempati peringkat atas dalam daftar buku terlaris di Perancis.[68]
Edisi Amerika Serikat telah disesuaikan dengan bahasa Inggris Amerika agar buku-buku ini lebih dimengerti oleh khalayak muda Amerika.[69] Di Indonesia, keseluruhan buku-buku Harry Potter diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan diterjemahkan oleh Listiana Srisanti.[70]
Pada bulan Desember 2005, Rowling menyatakan dalam situs web-nya:
"2006 akan menjadi tahun ketika saya menulis buku terakhir dalam seri Harry Potter."[71] Perkembangannya kemudian diumumkan dalam buku harian online-nya, yang mengabarkan kemajuannya dalam menulis Harry Potter dan Relikui Kematian, dengan tanggal perilisan 21 Juli 2007. Buku terakhir ini selesai pada tanggal 11 Januari 2007 di Hotel Balmoral, Edinburgh. Rowling menuliskan pesan di bagian belakang patung Hermes, yang berbunyi: "J. K. Rowling selesai menulis Harry Potter dan Relikui Kematian di kamar ini (552) pada tanggal 11 Januari 2007."[72]
Rowling sendiri telah menyatakan bahwa bab terakhir dari buku terakhir (epilog) selesai "kira-kira tahun 1990".[73][74] Pada bulan Juni 2006, Rowling, dalam sebuah acara talk show Inggris, Richard & Judy, mengumumkan bahwa beberapa bab telah dimodifikasi karena salah satu karakter "mendapat penangguhan hukuman" dan dua karakter lainnya yang sebelumnya selamat harus tewas. Pada 28 Maret 2007, gambar sampul novel terakhir untuk edisi dewasa dan anak-anak penerbit Bloomsbury serta Scholastic dirilis.[75][76]
Penggemar seri Harry Potter yang sangat bersemangat dan tidak
sabar menunggu seri terbaru keluar di toko-toko buku di seluruh dunia
mulai mengadakan acara-acara yang bertepatan dengan peluncuran tengah
malam buku terbaru, yang dimulai saat peluncuran Harry Potter dan Piala Api
pada tahun 2000. Acara-acara yang diselenggarakan antara lain parade
kostum, permainan, lukisan wajah, dan acara hiburan langsung lainnya.
Ini turut memberikan kontribusi terhadap tingginya popularitas penggemar
Potter dan sukses menarik penggemar untuk membeli buku; hampir sembilan
juta dari 10,8 juta eksemplar cetakan pertama Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran terjual dalam 24 jam setelah peluncurannya.[77][78] Novel terakhir, Harry Potter dan Relikui Kematian, menjadi buku dengan penjualan tercepat dalam sejarah, terjual sekitar 11 juta eksemplar dalam 24 jam pertama peluncurannya.[79] Seri Harry Potter juga sukses mengumpulkan penggemar dewasa, yang menyebabkan setiap novel Harry Potter diterbitkan dalam dua versi, dengan teks yang sama, namun sampul berbeda, yaitu versi dewasa dan versi anak-anak.[80] Selain mengadakan pertemuan online melalui situs penggemar, blog, dan podcast, penggemar-penggemar setia Harry Potter juga bisa bertemu dalam simposium Harry Potter. Kata Muggle telah menyebar keluar dunia Harry Potter, menjadi salah satu kata budaya populer yang tercantum dalam Oxford English Dictionary.[81]
Fandom Harry Potter juga mengadakan podcast secara reguler, biasanya
setiap minggu, dengan diskusi-diskusi terbaru dalam fandom. MuggleCast dan PotterCast[82] meraih posisi teratas dalam peringkat podcast iTunes dan menurut hasil jajak pendapat merupakan salah satu dari 50 podcast terfavorit.[83]
Popularitas seri Harry Potter juga telah menghasilkan kesuksesan komersial bagi Rowling, penerbit, dan pemegang izin Harry Potter terkait lainnya. Kesuksesan ini menjadikan Rowling sebagai penulis pertama yang menjadi miliarder.[84] Novel-novel Harry Potter telah terjual lebih dari 450 juta kopi di seluruh dunia dan telah diadaptasi ke dalam film-film populer yang diproduksi oleh Warner Bros., yang menjadi film seri tersukses sepanjang masa.[3][85]
Film-film ini juga telah menghasilkan delapan permainan video dan
menyebabkan lahirnya lisensi lebih dari 400 produk tambahan lainnya yang
terkait dengan Harry Potter, termasuk sebuah iPod. Merek dagang Harry Potter diperkirakan bernilai sebesar $15 milyar.[10]
Tingginya permintaan terhadap buku-buku Harry Potter memotivasi New York Times untuk membuat daftar buku terlaris yang terpisah untuk sastra anak pada tahun 2000, tepat sebelum perilisan Harry Potter dan Piala Api. Pada 24 Juni 2000, novel-novel Rowling bertengger selama 79 minggu berturut-turut dalam daftar buku terlaris New York Times; tiga novel pertama masing-masingnya menempati daftar buku hardcover terlaris.[86] Pada tanggal 12 April 2007, Barnes & Noble mengungkapkan bahwa Relikui Kematian telah memecahkan rekor pra-pemesanan, dengan lebih dari 500.000 eksemplar buku yang dipesan melalui situs mereka.[87] Untuk perlisan Piala Api, sebanyak 9.000 truk FedEx digunakan tanpa tujuan lain selain untuk mendistribusikan buku.[88] Amazon.com dan Barnes & Noble telah menjual lebih dari 700.000 eksemplar buku.[88] Di Amerika Serikat, buku tersebut awalnya dicetak sebanyak 3,8 juta eksemplar, memecahkan rekor percetakan pada saat itu.[88] Statistik rekor ini dipecahkan oleh Harry Potter dan Orde Phoenix tiga tahun kemudian, yang dicetak sebanyak 8,5 juta eksemplar, dan kemudian dipecahkan lagi oleh Pangeran Berdarah Campuran (10,8 juta eksemplar).[89] 6.9 juta eksemplar Pangeran Berdarah Campuran terjual di AS dalam 24 jam setelah perilisannya, sedangkan di Britania Raya lebih dari dua juta eksemplar terjual di hari pertamanya.[90] Cetak awal di AS untuk Relikui Kematian adalah 12 juta eksemplar, dan lebih dari satu juta pra-pemesanan yang dipesan melalui Amazon dan Barnes & Noble.[91]
Sebuah studi pada tahun 2004 menemukan bahwa buku-buku seri Harry Potter secara umum dibacakan di sekolah-sekolah dasar di San Diego County, California.[100] Berdasarkan hasil jajak pendapat online pada 2007, National Education Association di Amerika Serikat menempatkan seri Harry Potter dalam "Top 100 Buku untuk Anak-Anak."[101] Tiga buku (Batu Bertuah, Tawanan Azkaban dan Piala Api) merupakan buku-buku yang menempati daftar "Top 100 Chapter Books" sepanjang masa dalam jajak pendapat pada tahun 2012 yang dilakukan oleh School Library Journal School Library Journal.[102]
Pada saat diterbitkannya buku kelima, Harry Potter dan Orde Phoenix, buku-buku Harry Potter mulai menerima kritik keras dari sejumlah pakar sastra. Profesor Yale, sarjana sastra dan kritikus Harold Bloom mengkritik buku tersebut sebagai sastra, mengatakan: "pikiran Rowling begitu diatur oleh klise dan metafora yang mati sehingga ia tidak memiliki gaya penulisan lain."[104] A. S. Byatt menulis sebuah artikel op-ed di New York Times, menyebut dunia Rowling sebagai "dunia sekunder, terbuat dari motif derifatif cerdas dari segala jenis sastra anak... ditulis untuk orang-orang yang hidupnya imajinatif, yang terbatas pada kartun TV, opera sabun, realitas TV dan gosip selebriti yang berlebih-lebihan."[105]
Michael Rosen, seorang novelis dan penyair, menyatakan bahwa buku-buku Rowling tidak cocok untuk anak-anak, yang tidak akan mampu memahami temanya yang kompleks. Rosen juga menyatakan bahwa "JK Rowling tak lebih dari seorang penulis dewasa."[106] Kritikus Anthony Holden menulis di The Observer berdasarkan pengalamannya dalam menilai Harry Potter dan Tawanan Azkaban untuk Whitbread Awards 1999. Pandangannya secara keseluruhan mengenai seri Harry Potter adalah negatif – "saga Potter pada dasarnya merendahkan, konservatif, sangat derivatif, nostalgia bagi Inggris masa lampau", dan ia menyatakan bahwa seri itu "biasa saja, dengan gaya prosa yang tidak gramatikal".[107] Ursula Le Guin menyatakan: "Saya tidak punya pendapat hebat mengenai seri itu. Saat begitu banyak orang dewasa yang mengkritik tentang 'orisinalitas luar biasa' dari buku Harry Potter pertama, saya membacanya untuk mengetahui apa yang diributkan itu, dan tetap agak bingung; tampak seperti fantasi anak-anak yang disilangkan dengan "novel sekolah", baik untuk kelompok usia, namun gayanya biasa, imajinatif derivatif, dan secara etis agak kejam."[108]
Sebaliknya, penulis Fay Weldon mengakui bahwa seri ini "tidak seperti yang diharapkan penyair", namun melanjutkan dengan mengatakan: "tapi ini bukan puisi, ini untuk dibaca, untuk dijual, hiburan sehari-hari, dan prosa yang hebat".[109] Kritikus sastra A. N. Wilson memuji seri Harry Potter di The Times, menyatakan: "Tidak banyak penulis yang memiliki kemampuan Dickensian seperti JK yang akan membuat kita membalik halaman, menangis terang-terangan, dengan air mata meleleh-dan beberapa halaman kemudian kita tertawa, karena lelucon yang bagus... Kita telah hidup sepanjang satu dekade untuk membaca cerita anak-anak yang paling lucu, paling menyeramkan, dan paling mengharukan yang pernah ditulis."[110] Charles Taylor dari Salon.com, yang pada dasarnya adalah seorang kritikus film,[111] secara khusus menentang pendapat Byatt. Ia mengakui bahwa seri mungkin memiliki "poin budaya yang berkisah mengenai sampah budaya pop dan jauh dari kompleksitas seni",[112] namun Taylor menolak pendapat Byatt yang menyatakan bahwa seri ini bukanlah sastra, dan bahwa kesuksesannya hanyalah karena kisah masa kanak-kanak yang ditawarkannya. Taylor menekankan tema gelap dari seri, yang ditunjukkan oleh pembunuhan teman sekolah dan teman dekatnya, serta luka psikologis dan pengucilan sosial yang memicunya. Taylor juga berpendapat bahwa Batu Bertuah adalah yang paling 'terang' dari ketujuh buku yang diterbitkan, dan menolak bahwa kisah masa kanak-kanak – yang menurut Byatt – memacu kesuksesan seri: misalnya, kisah buku pertama dibuka dengan berita tentang pembunuhan ganda orangtua Harry, yang mana hal ini jauh dari tema anak-anak.[112]
Stephen King menyebut seri Harry Potter sebagai "sebuah prestasi yang hanya mampu dicapai oleh seseorang dengan imajinasi unggul", dan menyatakan bahwa "Rowling bermain kata-kata, memiringkan selera humor" menjadi "luar biasa". Namun, ia menulis bahwa meskipun ceritanya "bagus", ia "sedikit kesal karena mengetahui kalau Harry harus berada di rumah bibi dan pamannya yang mengerikan", kisah awal yang ditampilkan dalam ketujuh buku.[38] King juga bercanda dengan menyatakan bahwa "Rowling tidak pernah menemukan adverb yang tidak ia sukai!". King memprediksi bahwa Harry Potter "akan bertahan sepanjang waktu dan berakhir di rak buku di mana hanya yang terbaik yang akan disimpan; saya pikir Harry akan menempati tempat yang sama dengan Alice, Huck, Frodo, dan Dorothy, dan ini adalah salah satu seri yang tidak hanya akan bertahan sepanjang dekade, tapi sepanjang masa."[113]
Pustakawan Nancy Knapp mengungkapkan bahwa seri ini berpotensi untuk meningkatkan angka melek huruf dengan memotivasi anak-anak untuk membaca lebih sering.[116] Sepakat dengan Knapp, Diane Penrod juga memuji pencampuran antara hiburan sederhana dengan "kualitas fiksi sastra yang cerdas" dalam buku, namun mengungkapkan keprihatinannya atas efek mengganggu dari produksi pernak-pernik yang menyertai peluncuran buku.[117]
Jennifer Conn menggunakan metode mengajar Snape dan pelatih Quidditch Madam Hooch sebagai contoh mengenai apa yang harus dihindari dan apa yang harus ditiru dalam proses mengajar,[118] dan Joyce Fields menulis bahwa buku-buku Harry Potter memuat empat dari lima topik utama dalam kelas sosiologi tahun pertama: "konsep sosiologi, termasuk budaya, masyarakat, dan sosialisasi; stratifikasi dan ketimpangan sosial; lembaga sosial; dan teori sosial."[119]
Jenny Sawyer menulis pada 25 Juli 2007 dalam Christian Science Monitor bahwa buku Harry Potter menciptakan "tren komersialisasi penceritaan dongeng masyarakat Barat", "moral dalam cerita tersebut sudah tersampaikan, namun dilenyapkan akibat adanya unsur budaya pop saat ini. Setelah 10 tahun, 4.195 halaman, dan lebih dari 375 juta kopi, prestasi menjulang J.K. Rowling memiliki landasan hampir semua unsur sastra anak: "kepahlawanan". Harry Potter, menurut Sawyer, tidak menghadapi "perjuangan moral" ataupun mengalami pertumbuhan etika, dan dengan demikian "tidak ada panduan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah".[120] Sebaliknya, Emily Griesinger menggambarkan perjalanan Harry untuk pertama kalinya ke Peron 9¾ sebagai perwujudan dari iman dan harapan, dan perjumpaannya dengan Topi Seleksi adalah hal pertama dari banyak hal di mana karakter Harry dibentuk oleh pilihan yang dibuatnya. Griesinger juga mencatat adanya "sihir yang lebih kuat" dalam pengorbanan ibu Harry untuk melindungi putranya di sepanjang seri, yang gagal dipahami Voldemort.[121]
Dalam artikel Slate tanggal 8 November 2002, Chris Suellentrop menyejajarkan Potter dengan "anak malang yang sukses di sekolah karena bakat teman-teman dan kerabatnya". Ia mencatat bahwa dalam fiksi Rowling, kemampuan sihir adalah "sesuatu yang kau peroleh sejak lahir, bukan sesuatu yang dapat dicapai", Suellentrop juga menyatakan bahwa pepatah Dumbledore: "Pilihan kitalah, yang menunjukkan orang seperti apa kita, lebih dari kemampuan kita", adalah munafik.[122] Pada 12 Agustus 2007, New York Times meninjau Relikui Kematian, Christopher Hitchens memuji Rowling atas "cerita sekolah Inggris-nya" tanpa menciptakan "dunia demokrasi yang penuh keragaman".[123]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sengketa hukum atas seri Harry Potter, Perdebatan agama mengenai Harry Potter, Politik dalam Harry Potter, dan Tanya Grotter
Buku-buku Harry Potter telah menjadi subjek dari sejumlah kasus hukum. Kelompok Kristen Amerika mengklaim bahwa buku-buku Harry Potter mempromosikan ajaran Wicca dan sihir di kalangan anak-anak, dan berbagai konflik lainnya terkait dengan pelanggaran hak cipta dan merek dagang. Popularitas dan tingginya nilai pasar dari seri Harry Potter telah membuat Rowling, penerbit, dan distributor film Warner Bros. mengambil tindakan hukum untuk melindungi hak cipta Harry Potter, termasuk melarang penjualan produk-produk imitasi Harry Potter, menegur para pemilik situs web yang memakai nama domain "Harry Potter", dan menuntut penulis bernama Nancy Stouffer karena menuduh bahwa Rowling telah menjiplak karyanya.[124][125][126] Berbagai pemuka-pemuka agama mengklaim bahwa buku-buku Harry Potter mempromosikan sihir dan oleh karena itu tidak cocok bagi anak-anak,[127] sedangkan sejumlah kritikus juga mengkritik buku-buku Rowling karena mempromosikan agenda politik. [128][129]
Buku-buku Harry Potter juga telah menimbulkan kontroversi dalam dunia sastra dan penerbitan. Pada tahun 1997-1998, Harry Potter dan Batu Bertuah memenangkan hampir semua penghargaan buku di Britania Raya yang dinilai oleh anak-anak, namun tidak ada satupun penghargaan buku anak-anak yang dinilai oleh orang dewasa.[130] Sandra Beckett menyindir bahwa buku-buku ini hanya populer di kalangan anak-anak.[131] Pada tahun 1999, Whitbread Book of the Year Award untuk pertama kalinya memberikan penghargaan utama bagi buku anak-anak, dan salah satu juri mengancam akan mengundurkan diri jika Harry Potter dan Tawanan Azkaban dinyatakan sebagai pemenang. Buku ini pada akhirnya hanya menempati posisi kedua, di belakang pemenang hadiah puisi Seamus Heaney, yang menerjemahkan puisi epik Anglo-Saxon, Beowulf. Antara tahun 1997-1999, Rowling secara berturut-turut memenangkan Smarties Book Awards. Rowling akhirnya menarik diri dari kompetisi ini untuk memberikan kesempatan pada penulis yang lainnya.[131]
Pada tahun 2000, tak lama sebelum penerbitan Harry Potter dan Piala Api, tiga seri Harry Potter sebelumnya telah menduduki puncak daftar buku fiksi terlaris New York Times, atau sepertiga dari entri buku-buku anak-anak. Surat kabar itu kemudian menciptakan daftar terbaru untuk buku anak-anak, memisahkan antara fiksi dan nonfiksi, serta hardcover dan softcover untuk memberikan kesempatan pada buku anak-anak yang lainnya. Langkah ini didukung oleh para penerbit dan penjual buku.[86] Pada tahun 2004, The New York Times lagi-lagi memecah daftar buku anak-anak terlaris yang masih saja tetap didominasi oleh buku-buku Harry Potter, memisahkan antara buku berseri dan buku individu, dan menyingkirkan Harry Potter dari daftar buku individu.[132] Pemecahan daftar ini telah memicu berbagai pujian, kecaman, dan beberapa komentar yang menunjukkan manfaat dan kerugian dari langkah ini.[133] New York Times beralasan bahwa pemecahan daftar ini sama dengan kasus Billboard yang harus membuat tangga lagu terpisah pada tahun 1964 saat grup musik Inggris The Beatles merajai lima tangga lagu sekaligus, atau Nielsen yang harus membuat daftar game-show terpisah saat Who Wants to Be a Millionaire? – yang juga berasal dari Inggris – mendominasi rating Nielsen.[134]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Harry Potter (film)
Pada tahun 1998, Rowling menjual hak film dari empat buku pertama Harry Potter kepada Warner Bros. dengan harga £1 juta ($1.982.900).[135][136] Rowling meminta agar para pemain dalam film Harry Potter haruslah berasal dari Britania, namun tidak menutup kemungkinan pemeran berkebangsaan lainnya juga terlibat, misalnya aktor Irlandia Richard Harris yang memerankan Dumbledore, dan pemeran Perancis dan Eropa Timur dalam film Harry Potter and the Goblet of Fire, yang memang sesuai dengan asal karakter dalam buku.[137] Sejumlah sutradara dipertimbangkan untuk menggarap Harry Potter, termasuk Steven Spielberg, Terry Gilliam, Jonathan Demme, dan Alan Parker. Pada akhirnya, Chris Columbus ditunjuk pada 28 Maret 2000 untuk menyutradarai Harry Potter and the Philosopher's Stone (berjudul "Harry Potter and the Sorcerer's Stone" di Amerika Serikat). Penunjukan Columbus ini didasari oleh karya-karya film keluarganya seperti Home Alone dan Mrs. Doubtfire, serta pengalamannya yang terbukti mampu mengarahkan anak-anak saat bermain film.[138] Setelah proses pemilihan pemeran yang panjang, syuting dimulai pada bulan Oktober 2000 di Leavesden Film Studios London, dan produksi berakhir pada bulan Juli 2001.[139][140] Philosopher's Stone dirilis pada tanggal 14 November 2001. Tiga hari setelah rilis film pertama, produksi untuk Harry Potter and the Chamber of Secrets,
yang juga disutradarai oleh Columbus, dimulai. Syuting film kedua
selesai pada musim panas 2002, filmnya sendiri dirilis pada 15 November
2002.[141] Daniel Radcliffe, Rupert Grint, dan Emma Watson masing-masingnya memerankan Harry Potter, Ron Weasley dan Hermione Granger di keseluruhan film.
Columbus menolak menyutradarai film ketiga, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, dan hanya bertindak sebagai produser. Sutradara Meksiko Alfonso Cuarón mengambil alih posisi Columbus sebagai sutradara, dan setelah pengambilan gambar pada tahun 2003, film ini dirilis pada 4 Juni 2004. Film keempat mulai diproduksi sebelum dirilisnya film ketiga. Oleh sebab itu, Mike Newell dipilih sebagai sutradara untuk Harry Potter and the Goblet of Fire, yang dirilis pada 18 November 2005.[142] Newell merupakan sutradara Inggris pertama yang menggarap seri Harry Potter. Harry Potter and the Order of the Phoenix disutradarai oleh sutradara televisi David Yates. Produksi film ini dimulai pada bulan Januari 2006 dan dirilis setahun kemudian pada bulan Juli 2007, bertepatan dengan peluncuran novel terakhir, Harry Potter dan Relikui Kematian. Oleh sebab itu, banyak yang menganggap bahwa Juli 2007 adalah "bulannya Harry Potter".[143][144] Karena eksekutif "sangat menyukai" film sebelumnya, Yates terpilih lagi untuk menyutradarai Harry Potter and the Half-Blood Prince, yang dirilis pada 15 Juli 2009.[145][146][147][148]
Pada bulan Maret 2008, Presiden dan COO Warner Bros., Alan F. Horn, mengumumkan bahwa film terakhir dalam seri, Harry Potter and the Deathly Hallows, akan dirilis dalam dua bagian sinematik: Bagian 1 pada 19 November 2010 dan Bagian 2 pada 15 Juli 2011. Produksi kedua bagian ini dimulai pada bulan Februari 2009, dan hari terakhir pengambilan gambar berlangsung pada 12 Juni 2010.[149][150]
Rowling memiliki kontrol kreatif atas seri film Harry Potter, mengamati proses pembuatan film Philosopher's Stone dan menjabat sebagai produser pada kedua film Deathly Hallows, bersama dengan David Heyman dan David Barron.[151] Film-film Harry Potter selalu merajai tangga box office. Secara keseluruhan, kedelapan film tersebut menjadi film seri dengan pendapatan kotor tertinggi di seluruh dunia. Philosopher's Stone adalah film Harry Potter dengan pendapatan kotor tertinggi sampai dirilisnya film terakhir, Deathly Hallows Part 2, sedangkan Prisoner of Azkaban berpendapatan kotor paling rendah.[152] Selain sukses secara finansial, seri film Harry Potter juga sukses secara kritikal.[153][154]
Pendapat mengenai film-film Harry Potter di antara penggemar umumnya terbagi dua; satu kelompok lebih memilih untuk setia pada dua film pertama, dan kelompok lainnya lebih memilih untuk menyukai film-film sesudahnya.[155] Rowling sendiri secara rutin selalu mendukung setiap film, dan menyatakan bahwa Deathly Hallows adalah "salah satu favoritnya" dalam seri.[156][157][158][159] Rowling menulis di situs webnya tentang transisi dari buku ke film: "Tidak mungkin untuk memasukkan setiap alur cerita buku ke dalam sebuah film yang durasinya hanya di bawah empat jam. Jelas film memiliki batasan-batasan yang tidak dimiliki novel, kendala waktu dan anggaran; sementara saya bisa membuat efek yang memukau tanpa mengandalkan apapun selain interaksi antara imajinasi saya sendiri dan para pembaca".[160]
Dalam British Academy Film Awards ke-64 pada bulan Februari 2011, Rowling, bersama dengan produser David Heyman dan David Barron serta sutradara David Yates, Alfonso Cuarón dan Mike Newell menerima penghargaan Michael Balcon Award for Outstanding British Contribution to Cinema atas nama semua film dalam seri Harry Potter. Aktor Rupert Grint dan Emma Watson, yang memerankan karakter Ron Weasley dan Hermione Granger, juga hadir.[161][162]
Sejak dirilisnya novel pertama, Harry Potter and the Philosopher's Stone (di Indonesia diterbitkan dengan judul Harry Potter dan Batu Bertuah) pada tanggal 30 Juni 1997, seri ini telah mendapatkan popularitas besar, berbagai pujian kritis, dan kesuksesan komersial di seluruh dunia.[1] Beberapa kritikus juga melontarkan kritikan negatif, terutama karena temanya yang gelap. Pada Juni 2011, seri ini telah terjual sekitar 450 juta kopi di seluruh dunia, menjadikannya sebagai novel seri paling laris sepanjang masa, dan telah diterjemahkan ke dalam 67 bahasa.[2][3] Empat novel terakhir secara berturut-turut mencetak rekor sebagai buku dengan penjualan tercepat dalam sejarah.
Dengan memuat banyak genre, termasuk fantasi dan bildungsroman (dengan unsur misteri, thriller, petualangan, dan roman), seri ini telah melahirkan banyak makna dan referensi budaya.[4][5][6][7] Menurut Rowling, tema utama dalam seri ini adalah kematian.[8] Terdapat juga tema lainnya, seperti prasangka dan korupsi.[9]
Penerbit awal novel-novel Harry Potter adalah Bloomsbury di Britania Raya dan Scholastic Press di Amerika Serikat. Di samping itu, seri ini telah diterbitkan oleh berbagai penerbit di seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Keseluruhan novel, dengan novel ketujuh dibagi menjadi dua bagian, telah diadaptasi menjadi delapan seri film oleh Warner Bros. Pictures, dan menjadi film seri paling sukses sepanjang masa. Seri Harry Potter juga telah menghasilkan berbagai merek dagang yang berhubungan dengan cerita, menjadikan merek Harry Potter bernilai lebih dari $15 milyar.[10] Selain itu, terkait dengan kesuksesan novel dan film-filmnya, Rowling telah menjadi penulis terkaya sepanjang sejarah kesusasteraan.[11] Harry Potter juga dijadikan sebagai tema taman hiburan seperti The Wizarding World of Harry Potter di Islands of Adventure, Universal Parks & Resorts.
Novel ini mengisahkan tentang Harry Potter, seorang anak laki-laki yatim piatu yang pada usia sebelas tahun mengetahui bahwa ia adalah seorang penyihir, hidup dalam dunia biasa nonsihir, atau Muggle.[12] Kemampuan sihirnya adalah bawaan dan ia diundang untuk menghadiri sekolah yang mengajarkan tentang keterampilan dan pengetahuan sihir.[13] Harry kemudian menjadi pelajar di Sekolah Sihir Hogwarts, dan di sana sebagian besar kisah novel berlangsung. Di Hogwarts, Harry melalui masa-masa remajanya, ia belajar untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya: sihir, sosial dan emosional, termasuk permasalahan remaja biasa seperti cinta, persahabatan, dan ujian sekolah, serta ujian terbesar untuk mempersiapkannya dalam menghadapi konfrontasi yang ada di depannya.[14]
Setiap novel mengisahkan tentang satu tahun kehidupan Harry,[15] dengan peristiwa novel yang berlangsung antara tahun 1991-1998.[16] Kisah novel ini juga mengandung banyak kilas balik, yang sering dialami oleh Harry saat melihat kenangan karakter lain melalui benda sihir yang disebut Pensieve.
Lingkungan pengisahan yang dibuat oleh Rowling benar-benar terpisah dari realitas, namun masih terkait erat satu sama lainnya. Jika tanah fantasi Narnia adalah dunia alternatif dan Dunia Tengah Lord of the Rings adalah dunia magis, maka dunia sihir Harry Potter secara paralel ada di dalam dunia nyata yang mengandung versi magis dari unsur-unsur biasa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Harry Potter, banyak institusi dan lokasi yang dikenali, misalnya London.[17] Dunia Harry Potter terdiri dari sekumpulan jalan-jalan tersembunyi yang diabaikan manusia biasa, tempat minum kuno, puri di wilayah sepi, dan kastil terpencil yang tidak terlihat oleh populasi Muggle.[13]
Tahun-tahun awal
Model kastil Hogwarts, tempat Harry mempelajari pendidikan sihir dan menjadi latar tempat hampir di keseluruhan cerita novel.
Kontak pertama Harry dengan dunia sihir adalah melalui seorang manusia setengah raksasa bernama Rubeus Hagrid, penjaga dan juru kunci di Hogwarts. Hagrid mengungkapkan tentang sejarah masa lalu Harry.[18] Melalui cerita Hagrid, Harry mengetahui bahwa saat ia bayi, ia menyaksikan pembunuhan orangtuanya oleh seorang penyihir hitam jahat bernama Lord Voldemort, yang kemudian juga berupaya untuk membunuhnya.[18] Untuk alasan yang tidak diketahui, mantra yang dilontarkan oleh Voldemort untuk membunuh Harry berbalik kepadanya. Harry selamat dengan menyisakan bekas luka berbentuk sambaran petir di dahinya sebagai bukti atas serangan tersebut, dan Voldemort menghilang. Setelah selamat dari serangan Voldemort, Harry menjadi seorang legenda hidup dalam dunia sihir. Namun, atas perintah dari seorang penyihir terhormat dan terkenal bernama Albus Dumbledore, Harry yang yatim piatu dititipkan pada kerabat Muggle nya yang tidak menyenangkan, keluarga Dursley. Keluarga Dursley bersedia untuk merawat Harry, namun memutuskan untuk merahasiakan hal-hal magis darinya dengan harapan bahwa Harry akan tumbuh "normal".[18]
Dengan bantuan Hagrid, Harry bersiap untuk menjalani tahun pertamanya di Hogwarts. Harry pun mulai menjelajahi dunia sihir, pembaca akan diperkenalkan pada berbagai lokasi utama yang digunakan di sepanjang seri. Harry bertemu dengan sebagian besar karakter utama dalam seri, termasuk dua tokoh yang kelak akan menjadi sahabat baiknya: Ron Weasley, seorang penyihir yang berasal dari keluarga penyihir murni, kuno, namun miskin, dan Hermione Granger, seorang penyihir cerdas yang berasal dari keluarga nonpenyihir atau Muggle.[18][19] Di Hogwarts, Harry juga bertemu dengan guru ramuan Severus Snape, yang menunjukkan kebencian dan ketidaksukaannya pada Harry. Plot buku pertama diakhiri dengan konfrontasi antara Harry dan Lord Voldemort untuk kedua kalinya; Voldemort berupaya untuk memperoleh kembali keabadian dengan cara mendapatkan kekuatan dari Batu Bertuah, zat yang memberikannya kehidupan yang kekal, dan Harry beserta teman-temannya berusaha untuk menggagalkannya.[18]
Seri dilanjutkan dengan Harry Potter dan Kamar Rahasia, yang mengisahkan tentang tahun kedua Harry di Hogwarts. Harry dan teman-temannya menyelidiki misteri 50 tahun yang lalu terkait dengan peristiwa mencekam yang kembali terjadi di sekolah. Adik perempuan Ron, Ginny Weasley, menjalani tahun pertamanya di Hogwarts, dan menemukan sebuah buku harian yang ternyata merupakan buku harian milik Voldemort saat ia masih bersekolah di Hogwarts. Ginny dikuasai oleh Voldemort melalui buku hariannya dan menuntunnya untuk membuka jalan ke "Kamar Rahasia", melepaskan monster kuno yang menyerang para siswa di Hogwarts. Novel ini menggali tentang sejarah Hogwarts dan legenda seputar Kamar Rahasia. Untuk pertama kalinya, Harry mengetahui bahwa prasangka rasial mengenai "darah murni" dan "darah kotor" juga ada dalam dunia sihir, dan bahwa saat Voldemort berkuasa, penyihir keturunan Muggle atau "berdarah campuran" sering dijadikan sasaran teror. Harry juga mengetahui bahwa ia bisa berbicara Parseltongue (bahasa ular), pemilik kemampuan tersebut sangat jarang dan sering dikaitkan dengan Ilmu Hitam. Novel ini berakhir setelah Harry menyelamatkan kehidupan Ginny dengan membunuh Basilisk dan menghancurkan buku harian tersihir yang menjadi sumber masalah.
Novel ketiga, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, mengisahkan tentang tahun ketiga Harry di Hogwarts. Ini adalah satu-satunya novel Harry Potter yang tidak menampilkan Voldemort dalam ceritanya. Sebaliknya, Harry mengetahui bahwa ia menjadi target Sirius Black, seorang pembunuh yang melarikan diri dari penjara sihir, dan diyakini ikut terlibat dalam kematian orangtua Harry. Setelah Harry dilemahkan oleh dementor – makhluk sihir hitam yang memiliki kekuatan untuk melahap jiwa manusia – yang ditempatkan di Hogwarts untuk melindungi sekolah, Harry bertemu dengan Remus Lupin, guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang kemudian terungkap bahwa ia merupakan manusia serigala. Lupin mengajarkan Harry langkah-langkah pertahanan tingkat atas terhadap sihir hitam, terutama dementor, yang umumnya belum dipelajari oleh siswa seusianya. Harry kemudian mengetahui bahwa Lupin dan Black dahulunya adalah sahabat ayahnya, dan Black dijebak oleh teman mereka yang lainnya, Peter Pettigrew.[20] Dalam novel ini, terungkap bahwa tidak satupun guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang bertahan lebih dari satu tahun ajaran, dan hal ini selanjutnya berulang dalam novel-novel berikutnya.
Kembalinya Voldemort
Dalam buku kelima, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry kembali berhadapan dengan Voldemort yang baru bangkit. Dalam menanggapi kemunculan Voldemort, Dumbledore kembali mengaktifkan Orde Phoenix, yaitu perkumpulan rahasia yang bergiat dari rumah keluarga Sirius Black yang bertujuan untuk menghadapi pelahap maut Voldemort dan melindungi siapapun yang menjadi target Voldemort, terutama Harry. Meskipun Harry dan Dumbledore telah menjelaskan tentang kembalinya Voldemort, Kementerian Sihir dan kebanyakan masyarakat sihir lainnya menolak mempercayai bahwa Voldemort telah kembali.[22] Dalam upaya untuk melawan dan mendiskreditkan Dumbledore, Kementerian menunjuk Dolores Umbridge sebagai Inkuisitor Agung Hogwarts. Umbridge lalu mengubah Hogwarts menjadi rezim diktator dan melarang siswa mempelajari cara-cara untuk mempertahankan diri dalam melawan sihir hitam.[22]
Harry kemudian membentuk "Laskar Dumbledore", sebuah kelompok belajar rahasia di mana Harry bertugas untuk mengajari teman-temannya keterampilan sihir Pertahanan terhadap Ilmu Hitam tingkat tinggi yang telah ia pelajari. Harry mengetahui bahwa ada ramalan penting mengenai dirinya dan Voldemort, dan ramalan inilah yang telah memicu Voldemort untuk membunuh orang tua Harry.[23] Harry juga mengetahui bahwa ia dan Voldemort memiliki koneksi yang tidak diinginkan, dan menyakitkan setiap kali koneksi itu muncul, yang membuat Harry bisa menyaksikan tindakan Voldemort secara telepati. Dalam klimaks novel ini, Harry dan teman-temannya bertempur secara langsung menghadapi Pelahap Maut. Meskipun kedatangan tepat waktu para anggota Orde Phoenix menyelamatkan nyawa Harry dan teman-temannya, Sirius Black terbunuh dalam pertarungan ini.[22]
Dalam buku keenam, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Voldemort mulai melancarkan perang terbuka. Di Hogwarts, Harry dan teman-temannya yang beranjak remaja secara relatif terlindungi dari bahaya. Mereka terlibat dalam berbagai permasalahan remaja, dan Harry akhirnya mulai berkencan dengan Ginny Weasley. Di awal-awal cerita, Harry menemukan buku ramuan tua yang penuh dengan coretan dan instruksi-instruksi tidak resmi dari sang pemilik buku yang misterius; si "Pangeran Berdarah Campuran". Buku ini dengan cepat menjadi sumber kesuksesan Harry dalam kelas ramuan, namun karena berbagai mantra ilegal yang tertulis di dalamnya, buku ini juga menjadi sumber kekhawatiran, terutama dari Hermione. Pada tahun ini, Harry juga mengikuti pelajaran privat dengan Dumbledore, yang menunjukkan pada Harry berbagai kenangan tentang kehidupan awal Voldemort. Selama pelajaran privatnya, terungkap bahwa untuk mempertahankan hidupnya, Voldemort telah membagi jiwanya menjadi potongan-potongan, menciptakan serangkaian horcrux, benda dengan kekuatan jahat yang tersembunyi di berbagai lokasi, dan salah satunya adalah buku harian yang dihancurkan Harry dalam buku kedua.[24] Musuh Harry yang arogan, Draco Malfoy, berusaha untuk membunuh Dumbledore di sepanjang novel. Upaya Malfoy ini memuncak dengan terbunuhnya Dumbledore oleh Profesor Snape; si "Pangeran Berdarah Campuran" yang sebenarnya.
Novel terakhir dalam seri, Harry Potter dan Relikui Kematian, dimulai langsung setelah peristiwa dalam buku keenam. Voldemort sukses menguasai dan mengontrol Kementerian Sihir. Harry, Ron, dan Hermione memutuskan untuk tidak kembali ke Hogwarts dan memulai upaya mereka untuk menemukan dan menghancurkan horcrux Voldemort yang tersisa. Untuk memastikan keselamatan mereka sendiri serta keluarga dan teman-teman mereka, ketiganya terpaksa mengisolasi diri mereka di lokasi-lokasi yang tidak terlacak. Dalam petualangan mereka mencari horcrux, mereka bertiga mengetahui detil tentang masa lalu Dumbledore, tentang benda lainnya yang disebut hallow yang bisa digunakan untuk menangkal horcrux, serta motif Snape yang sebenarnya – ia bekerja untuk Dumbledore sejak pembunuhan ibu Harry.
Buku ketujuh ini memuncak dalam Pertempuran Hogwarts. Harry, Ron, dan Hermione beserta anggota Orde Phoenix, para guru, dan siswa Hogwarts, bertempur untuk mempertahankan Hogwarts dari Voldemort, Pelahap Mautnya, dan berbagai makhluk gaib. Beberapa karakter utama tewas dalam pertempuran gelombang pertama. Setelah mengetahui bahwa ia sendiri adalah horcrux, Harry menyerahkan dirinya kepada Voldemort, yang melontarkan kutukan maut padanya. Namun, para pejuang Hogwarts tidak menyerah. Meskipun mereka meyakini bahwa Harry telah tewas, mereka terus berjuang. Harry, yang sebenarnya berhasil kembali dari situasi antara hidup dan kematian dan kemudian berpura-pura mati, akhirnya menghadapi Voldemort, yang semua horcruxnya telah hancur. Dalam pertempuran berikutnya, Voldemort terbunuh oleh kutukannya sendiri yang berbalik. Di akhir novel, terdapat sebuah epilog yang menceritakan tentang kehidupan para karakter yang bertahan hidup dan keberlangsungan dunia sihir.
Karya tambahan
Lihat pula: J. K. Rowling: Filantropi
Rowling telah memperluas dunia Harry Potter dengan menulis beberapa buku singkat yang diproduksi untuk berbagai kegiatan amal.[25][26] Pada tahun 2001, Rowling merilis Hewan-Hewan Fantastis dan Di Mana Mereka Bisa Ditemukan (buku teks Hogwarts yang diakui) dan Quidditch dari Masa ke Masa (buku yang dibaca Harry sebagai selingan). Hasil dari penjualan dua buku tersebut disumbangkan kepada badan amal Comic Relief.[27] Pada tahun 2007, Rowling menerbitkan tujuh salinan tulisan tangan dari Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita,
kumpulan dongeng penyihir yang disebutkan dalam novel terakhir. Hasil
penjualan buku ini digunakan untuk membantu Children's High Level Group,
badan amal yang menyediakan dana bagi anak-anak dengan keterbelakangan
mental di negara-negara miskin. Buku ini diterbitkan secara
internasional pada tanggal 4 Desember 2008.[28][29] Rowling juga menulis sebuah prekuel sepanjang 800 kata pada tahun 2008 sebagai bagian dari kampanye pengumpulan dana yang diselenggarakan oleh penjual buku Waterstones.[30]
Ketiga buku di atas berisi informasi tambahan tentang dunia sihir yang
tidak dijelaskan dalam novel aslinya. Pada tahun 2011, Rowling
meluncurkan situs web untuk proyek barunya yang disebut Pottermore.[31] Pottermore dibuka untuk umum pada 14 April 2012.[32]
Pottermore ini memungkinkan pengguna untuk diseleksi, dipilih menurut
tongkat sihir mereka, dan memainkan berbagai permainan mini. Tujuan
utama dari situs web ini adalah mengajak pengguna untuk berpetualang ke
sepanjang cerita dengan akses ke konten-konten yang tidak diungkapkan
oleh Rowling sebelumnya, dengan lebih dari 18.000 kata konten tambahan.[33]Novel-novel Harry Potter tergolong ke dalam genre sastra fantasi, namun, dalam banyak hal novel-novel ini juga bisa dikategorikan bildungsromans, atau novel transisi usia,[34] serta juga mengandung unsur-unsur seperti misteri, petualangan, thriller, dan roman. Harry Potter dianggap sebagai bagian dari kisah-kisah mengenai sekolah asrama anak di Inggris, sama seperti Stalky & Co. Rudyard Kipling, Malory Towers nya Enid Blyton, seri St. Clare dan Naughtiest Girl, serta Billy Bunter karya Frank Richards. Novel-novel Harry Potter berlatar tempat di Hogwarts, sebuah sekolah asrama fiksi untuk para penyihir di Inggris, dengan kurikulumnya yang mengajarkan tentang pendidikan sihir.[35] Secara tidak langsung, Harry Potter dipengaruhi oleh Tom Brown's School Days karya Thomas Hughes dan novel-novel era Victoria dan Edwardian lainnya yang menceritakan tentang kehidupan di sekolah publik Britania.[36][37] Menurut Stephen King, Harry Potter adalah "cerita misteri yang cerdik",[38] dan masing-masing novel dikembangkan dengan pendekatan misteri petualangan bergaya Sherlock Holmes. Cerita dikisahkan dari sudut pandang orang ketiga tunggal, kecuali dalam beberapa bab (misalnya dalam bab pertama Harry Potter dan Batu Bertuah, Piala Api, dan dua bab pertama Pangeran Berdarah Campuran).
Di tengah-tengah cerita di masing-masing novel, Harry menemui berbagai masalah dan melanggar berbagai peraturan sekolah saat berupaya untuk memecahkan permasalahan tersebut. Jika ada siswa yang tertangkap melanggar peraturan sekolah, maka mereka akan dihukum oleh profesor Hogwarts. Penggunaan hukuman ini sering ditemui dalam novel-novel dengan sub-genre sekolah berasrama.[35] Namun, cerita di masing-masing novel selalu mencapai klimaksnya pada waktu musim panas, mendekati atau setelah diselenggarakannya ujian akhir, dan Harry harus berhadapan dengan Voldemort atau salah satu Pelahap Maut nya, dengan taruhan hidup dan mati. Seiring dengan perkembangan seri, satu atau lebih karakter tewas dalam empat novel terakhir.[39][40] Sebagai dampaknya, Harry mulai mempelajari pelajaran-pelajaran penting melalui eksposisi dan berdiskusi dengan kepala sekolah sekaligus mentornya, Albus Dumbledore.
Dalam novel terakhir, Harry Potter dan Relikui Kematian, Harry dan teman-temannya menghabiskan sebagian besar waktu mereka jauh dari Hogwarts, dan hanya kembali ke sana untuk menghadapi Voldemort di bab-bab terakhir novel.[39] Untuk melengkapi format bildungsroman, dalam novel ini Harry mulai tumbuh dewasa, kehilangan kesempatan untuk menjalani tahun terakhirnya sebagai murid di Hogwarts, harus bertindak sebagai orang dewasa, dan masyarakat di dunia sihir bergantung pada keputusannya.[41]
Tema
Menurut Rowling, tema utama dalam seri Harry Potter adalah kematian: "Buku saya sebagian besar tentang kematian. Dibuka dengan kematian orang tua Harry. Ada obsesi Voldemort untuk menaklukkan kematian dan menemukan keabadian dengan harga apapun, tujuan setiap orang yang memiliki kemampuan sihir. Saya jadi mengerti kenapa Voldemort ingin mengalahkan kematian. Kita semua takut pada hal itu."[8]Para akademisi dan jurnalis telah mengembangkan penafsiran lain yang terkait dengan tema dalam novel, beberapa di antaranya lebih kompleks daripada yang lain, dan beberapa yang lainnya juga menyatakan terdapat tema politik. Tema-tema seperti normalitas, penindasan, kelangsungan hidup, dan pemaksaan kehendak dianggap sebagai tema lazim yang terdapat di seluruh seri.[42] Selain itu, tema tentang perjalanan menuju masa remaja dan penderitaan juga terdapat dalam novel.[43] Rowling sendiri menyatakan bahwa bukunya terdiri dari "argumen berkepanjangan untuk toleransi, permohonan berkepanjangan untuk mengakhiri kefanatikan", dan juga untuk menyampaikan pesan mengenai "permasalahan kebijaksanaan dan tidak mengasumsikan bahwa pemaksaan dan tekanan akan memberitahumu seluruh kebenaran".[44]
Tema lainnya yang bisa ditemukan dalam novel adalah kekuasaan/penyalahgunaan kekuasaan, cinta, prasangka, dan pilihan bebas. Tema-tema ini, menurut Rowling, "sangat mengakar kuat di seluruh plot cerita", penulis lebih suka membiarkan tema "tumbuh secara alami", daripada berusaha untuk menyampaikan ide-ide tersebut kepada para pembaca.[9] Tema lainnya yang selalu ada dalam cerita adalah masa remaja. Menurut Rowling, penggunaan tema ini bertujuan untuk menggambarkan perkembangan seksualitas karakternya dan tidak membiarkan Harry "terjebak dalam situasi pra-remaja permanen".[45] Rowling menyatakan bahwa menurutnya, signifikansi tema moral dalam cerita tampak "jelas menyilaukan". Kunci cerita menurut Rowling adalah pilihan antara apa yang benar dan apa yang mudah, "karena hal itu adalah bagaimana tirani dimulai, dengan orang-orang apatis yang mengambil rute mudah dan tiba-tiba menemukan dirinya dalam kesulitan besar."[46]
J. K. Rowling, pencipta Harry Potter.
| “ | Saya telah menulis hampir tanpa jeda sejak umur enam tahun tapi sebelumnya saya tidak pernah merasa begitu bergairah akan suatu gagasan. Saya hanya duduk dan berpikir, selama empat jam (menunggu keterlambatan kereta api), dan semua detil bermunculan di otak saya, dan anak laki-laki kurus berambut hitam dan berkaca mata yang tidak menyadari bahwa ia adalah seorang penyihir semakin lama semakin nyata bagi saya. | ” |
Harry Potter and the Philosopher's Stone diterbitkan oleh Bloomsbury, penerbit semua buku-buku Harry Potter di Britania Raya, pada tanggal 30 Juni 1997.[53] Novel ini diterbitkan di Amerika Serikat pada 1 September 1998 oleh Scholastic, yang menerbitkannya dengan judul Harry Potter and the Sorcerer's Stone,[54] setelah sebelumnya Rowling menerima bayaran sebesar US$105.000 untuk hak penerbitan di Amerika Serikat – harga yang sangat luar biasa bagi sebuah buku anak-anak yang dikarang oleh pengarang yang tidak dikenal pada saat itu.[55] Khawatir bahwa para pembaca di Amerika tidak akan mengerti kata "philosoper" atau tidak menganggapnya sebagai tema magis (meskipun "Philosoper's Stone" atau batu filsuf terkait dengan alkimia), Scholastic bersikeras untuk mengganti judul novel tersebut menjadi Harry Potter and the Sorcerer's Stone untuk pasar Amerika.
Buku kedua, Harry Potter dan Kamar Rahasia, awalnya diterbitkan di Britania Raya pada tanggal 2 Juli 1998 dan di AS pada 2 Juni 1999. Harry Potter dan Tawanan Azkaban kemudian diterbitkan setahun kemudian di Britania Raya pada 8 Juli 1999, dan di Amerika Serikat pada 8 September 1999.[56] Harry Potter dan Piala Api diterbitkan pada 8 Juli 2000 di waktu yang bersamaan oleh Bloomsbury dan Scholastic.[57] Harry Potter dan Orde Phoenix adalah buku terpanjang dalam seri, dengan tebal 766 halaman dalam versi Inggris dan 870 halaman dalam versi Amerika Serikat.[58] Orde Phoenix diterbitkan secara serentak di negara-negara yang berbahasa Inggris pada tanggal 21 Juni 2003.[59] Dua tahun kemudian, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran diterbitkan pada 16 Juli 2005, dan terjual sebanyak 9 juta eksemplar dalam waktu 24 jam setelah perilisannya di seluruh dunia.[60][61] Buku ketujuh sekaligus yang terakhir, Harry Potter dan Relikui Kematian, diterbitkan pada 21 Juli 2007.[62] Buku ini terjual sebanyak 11 juta eksemplar dalam 24 jam pertama setelah perilisannya, dengan rincian 2,7 juta eksemplar di Britania Raya dan 8,3 juta eksemplar di Amerika Serikat.[61]
Beberapa penerjemah yang disewa untuk menggarap novel-novel Harry Potter adalah penulis-penulis terkenal sebelum mereka menerjemahkan Harry Potter, misalnya Viktor Golyshev, yang menangani terjemahan Rusia untuk buku kelima. Terjemahan bahasa Turki untuk buku kedua sampai ketujuh dilakukan oleh Sevin Okyay, seorang kritikus sastra populer dan komentator budaya.[67] Untuk alasan kerahasiaan, terjemahan hanya dapat dimulai ketika novel yang ber bahasa Inggris sudah dirilis, dengan demikian ada jeda beberapa bulan sebelum novel diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Hal ini menyebabkan semakin banyaknya salinan dari edisi bahasa Inggris yang dijual kepada penggemar yang tidak sabaran di negara-negara non-bahasa Inggris. Di Perancis, karena tingginya minat untuk membaca buku kelima ini, Orde Phoenix edisi bahasa Inggris menjadi buku berbahasa Inggris pertama yang menempati peringkat atas dalam daftar buku terlaris di Perancis.[68]
Edisi Amerika Serikat telah disesuaikan dengan bahasa Inggris Amerika agar buku-buku ini lebih dimengerti oleh khalayak muda Amerika.[69] Di Indonesia, keseluruhan buku-buku Harry Potter diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan diterjemahkan oleh Listiana Srisanti.[70]
Rowling sendiri telah menyatakan bahwa bab terakhir dari buku terakhir (epilog) selesai "kira-kira tahun 1990".[73][74] Pada bulan Juni 2006, Rowling, dalam sebuah acara talk show Inggris, Richard & Judy, mengumumkan bahwa beberapa bab telah dimodifikasi karena salah satu karakter "mendapat penangguhan hukuman" dan dua karakter lainnya yang sebelumnya selamat harus tewas. Pada 28 Maret 2007, gambar sampul novel terakhir untuk edisi dewasa dan anak-anak penerbit Bloomsbury serta Scholastic dirilis.[75][76]
Dampak budaya
Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Fandom Harry Potter.
Stasiun kereta London King's Cross menaruh tanda peron fiktif dari cerita buku karena besarnya popularitas Harry Potter.
Lihat pula: Daftar buku terlaris
Kerumunan yang menunggu di toko buku Borders di Newark, Delaware, untuk peluncuran tengah malam Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran.
Tingginya permintaan terhadap buku-buku Harry Potter memotivasi New York Times untuk membuat daftar buku terlaris yang terpisah untuk sastra anak pada tahun 2000, tepat sebelum perilisan Harry Potter dan Piala Api. Pada 24 Juni 2000, novel-novel Rowling bertengger selama 79 minggu berturut-turut dalam daftar buku terlaris New York Times; tiga novel pertama masing-masingnya menempati daftar buku hardcover terlaris.[86] Pada tanggal 12 April 2007, Barnes & Noble mengungkapkan bahwa Relikui Kematian telah memecahkan rekor pra-pemesanan, dengan lebih dari 500.000 eksemplar buku yang dipesan melalui situs mereka.[87] Untuk perlisan Piala Api, sebanyak 9.000 truk FedEx digunakan tanpa tujuan lain selain untuk mendistribusikan buku.[88] Amazon.com dan Barnes & Noble telah menjual lebih dari 700.000 eksemplar buku.[88] Di Amerika Serikat, buku tersebut awalnya dicetak sebanyak 3,8 juta eksemplar, memecahkan rekor percetakan pada saat itu.[88] Statistik rekor ini dipecahkan oleh Harry Potter dan Orde Phoenix tiga tahun kemudian, yang dicetak sebanyak 8,5 juta eksemplar, dan kemudian dipecahkan lagi oleh Pangeran Berdarah Campuran (10,8 juta eksemplar).[89] 6.9 juta eksemplar Pangeran Berdarah Campuran terjual di AS dalam 24 jam setelah perilisannya, sedangkan di Britania Raya lebih dari dua juta eksemplar terjual di hari pertamanya.[90] Cetak awal di AS untuk Relikui Kematian adalah 12 juta eksemplar, dan lebih dari satu juta pra-pemesanan yang dipesan melalui Amazon dan Barnes & Noble.[91]
Penghargaan dan pengakuan
Seri Harry Potter telah menerima sejumlah penghargaan sejak dipublikasikannya Batu Bertuah pada tahun 1997, termasuk empat Whitaker Platinum Book Awards (semuanya diraih pada tahun 2001),[92] tiga Nestlé Smarties Book Prize (1997–1999),[93] dua Scottish Arts Council Book Awards (1999 dan 2001),[94] Whitbread Children's Book of the Year Award (1999),[95] WHSmith Book of the Year (2006),[96] dan lain sebagainya. Pada tahun 2000, Harry Potter dan Tawanan Azkaban dinominasikan untuk Hugo Award for Best Novel, dan pada tahun 2001, Harry Potter dan Piala Api memenangkan penghargaan tersebut.[97] Penghargaan lainnya di antaranya Carnegie Medal (1997),[98] Guardian Children's Award (1998), dan menempati sejumlah daftar seperti buku terkemuka, pilihan editor, dan buku terbaik dalam American Library Association, The New York Times, Chicago Public Library, dan Publishers Weekly.[99]Sebuah studi pada tahun 2004 menemukan bahwa buku-buku seri Harry Potter secara umum dibacakan di sekolah-sekolah dasar di San Diego County, California.[100] Berdasarkan hasil jajak pendapat online pada 2007, National Education Association di Amerika Serikat menempatkan seri Harry Potter dalam "Top 100 Buku untuk Anak-Anak."[101] Tiga buku (Batu Bertuah, Tawanan Azkaban dan Piala Api) merupakan buku-buku yang menempati daftar "Top 100 Chapter Books" sepanjang masa dalam jajak pendapat pada tahun 2012 yang dilakukan oleh School Library Journal School Library Journal.[102]
Penerimaan
Kritik sastra
Sejak awal penerbitannya, Harry Potter mendapat tinjauan positif dari para kritikus. Saat dipublikasikannya buku pertama, Harry Potter dan Batu Bertuah menarik perhatian surat kabar Skotlandia seperti The Scotsman, yang menyatakan bahwa itu "semua bakat klasik",[103] dan The Glasgow Herald, yang menyebutnya "barang Magis".[103] Segera setelah itu, surat kabar Inggris mulai bergabung, lebih dari satu surat kabar membandingkannya dengan karya Roald Dahl: The Mail on Sunday menilainya sebagai "debut paling imajinatif sejak Roald Dahl",[103] pandangan yang sama juga ditulis oleh The Sunday Times ("perbandingannya dengan Dahl adalah, sama-sama imajinatif"),[103] sedangkan The Guardian menyebutnya sebagai "novel bertekstur kaya yang ditumpangi oleh kejenakaan."[103]Pada saat diterbitkannya buku kelima, Harry Potter dan Orde Phoenix, buku-buku Harry Potter mulai menerima kritik keras dari sejumlah pakar sastra. Profesor Yale, sarjana sastra dan kritikus Harold Bloom mengkritik buku tersebut sebagai sastra, mengatakan: "pikiran Rowling begitu diatur oleh klise dan metafora yang mati sehingga ia tidak memiliki gaya penulisan lain."[104] A. S. Byatt menulis sebuah artikel op-ed di New York Times, menyebut dunia Rowling sebagai "dunia sekunder, terbuat dari motif derifatif cerdas dari segala jenis sastra anak... ditulis untuk orang-orang yang hidupnya imajinatif, yang terbatas pada kartun TV, opera sabun, realitas TV dan gosip selebriti yang berlebih-lebihan."[105]
Michael Rosen, seorang novelis dan penyair, menyatakan bahwa buku-buku Rowling tidak cocok untuk anak-anak, yang tidak akan mampu memahami temanya yang kompleks. Rosen juga menyatakan bahwa "JK Rowling tak lebih dari seorang penulis dewasa."[106] Kritikus Anthony Holden menulis di The Observer berdasarkan pengalamannya dalam menilai Harry Potter dan Tawanan Azkaban untuk Whitbread Awards 1999. Pandangannya secara keseluruhan mengenai seri Harry Potter adalah negatif – "saga Potter pada dasarnya merendahkan, konservatif, sangat derivatif, nostalgia bagi Inggris masa lampau", dan ia menyatakan bahwa seri itu "biasa saja, dengan gaya prosa yang tidak gramatikal".[107] Ursula Le Guin menyatakan: "Saya tidak punya pendapat hebat mengenai seri itu. Saat begitu banyak orang dewasa yang mengkritik tentang 'orisinalitas luar biasa' dari buku Harry Potter pertama, saya membacanya untuk mengetahui apa yang diributkan itu, dan tetap agak bingung; tampak seperti fantasi anak-anak yang disilangkan dengan "novel sekolah", baik untuk kelompok usia, namun gayanya biasa, imajinatif derivatif, dan secara etis agak kejam."[108]
Sebaliknya, penulis Fay Weldon mengakui bahwa seri ini "tidak seperti yang diharapkan penyair", namun melanjutkan dengan mengatakan: "tapi ini bukan puisi, ini untuk dibaca, untuk dijual, hiburan sehari-hari, dan prosa yang hebat".[109] Kritikus sastra A. N. Wilson memuji seri Harry Potter di The Times, menyatakan: "Tidak banyak penulis yang memiliki kemampuan Dickensian seperti JK yang akan membuat kita membalik halaman, menangis terang-terangan, dengan air mata meleleh-dan beberapa halaman kemudian kita tertawa, karena lelucon yang bagus... Kita telah hidup sepanjang satu dekade untuk membaca cerita anak-anak yang paling lucu, paling menyeramkan, dan paling mengharukan yang pernah ditulis."[110] Charles Taylor dari Salon.com, yang pada dasarnya adalah seorang kritikus film,[111] secara khusus menentang pendapat Byatt. Ia mengakui bahwa seri mungkin memiliki "poin budaya yang berkisah mengenai sampah budaya pop dan jauh dari kompleksitas seni",[112] namun Taylor menolak pendapat Byatt yang menyatakan bahwa seri ini bukanlah sastra, dan bahwa kesuksesannya hanyalah karena kisah masa kanak-kanak yang ditawarkannya. Taylor menekankan tema gelap dari seri, yang ditunjukkan oleh pembunuhan teman sekolah dan teman dekatnya, serta luka psikologis dan pengucilan sosial yang memicunya. Taylor juga berpendapat bahwa Batu Bertuah adalah yang paling 'terang' dari ketujuh buku yang diterbitkan, dan menolak bahwa kisah masa kanak-kanak – yang menurut Byatt – memacu kesuksesan seri: misalnya, kisah buku pertama dibuka dengan berita tentang pembunuhan ganda orangtua Harry, yang mana hal ini jauh dari tema anak-anak.[112]
Stephen King menyebut seri Harry Potter sebagai "sebuah prestasi yang hanya mampu dicapai oleh seseorang dengan imajinasi unggul", dan menyatakan bahwa "Rowling bermain kata-kata, memiringkan selera humor" menjadi "luar biasa". Namun, ia menulis bahwa meskipun ceritanya "bagus", ia "sedikit kesal karena mengetahui kalau Harry harus berada di rumah bibi dan pamannya yang mengerikan", kisah awal yang ditampilkan dalam ketujuh buku.[38] King juga bercanda dengan menyatakan bahwa "Rowling tidak pernah menemukan adverb yang tidak ia sukai!". King memprediksi bahwa Harry Potter "akan bertahan sepanjang waktu dan berakhir di rak buku di mana hanya yang terbaik yang akan disimpan; saya pikir Harry akan menempati tempat yang sama dengan Alice, Huck, Frodo, dan Dorothy, dan ini adalah salah satu seri yang tidak hanya akan bertahan sepanjang dekade, tapi sepanjang masa."[113]
Dampak sosial
Meskipun majalah Time menempatkan Rowling di posisi kedua Person of the Year pada tahun 2007, tidak ada inspirasi sosial, moral, dan politik yang diberikan Rowling kepada penggemarnya.[114] Kritikus buku Washington Post, Ron Charles, berpendapat pada Juli 2007 bahwa sejumlah besar orang dewasa membaca seri Potter, namun hal ini tidak hanya dialami oleh Harry Potter, buku-buku lainnya juga mewakili "kasus buruk budaya kekanak-kanakan", dan berpendapat bahwa tema "baik vs jahat" dalam seri ini sangat "kekanak-kanakan". Ia juga berpendapat "bukan salah Rowling" jika terjadi histeria budaya dan pemasaran yang ditandai dengan publikasi buku-buku berikutnya dengan "anak-anak dan orang dewasa yang mengantre di stadion besar, sikap media massa menjadi penyebab tidak ada novel lainnya yang dapat menghasilkan publikasi sebesar itu".[115]Pustakawan Nancy Knapp mengungkapkan bahwa seri ini berpotensi untuk meningkatkan angka melek huruf dengan memotivasi anak-anak untuk membaca lebih sering.[116] Sepakat dengan Knapp, Diane Penrod juga memuji pencampuran antara hiburan sederhana dengan "kualitas fiksi sastra yang cerdas" dalam buku, namun mengungkapkan keprihatinannya atas efek mengganggu dari produksi pernak-pernik yang menyertai peluncuran buku.[117]
Jennifer Conn menggunakan metode mengajar Snape dan pelatih Quidditch Madam Hooch sebagai contoh mengenai apa yang harus dihindari dan apa yang harus ditiru dalam proses mengajar,[118] dan Joyce Fields menulis bahwa buku-buku Harry Potter memuat empat dari lima topik utama dalam kelas sosiologi tahun pertama: "konsep sosiologi, termasuk budaya, masyarakat, dan sosialisasi; stratifikasi dan ketimpangan sosial; lembaga sosial; dan teori sosial."[119]
Jenny Sawyer menulis pada 25 Juli 2007 dalam Christian Science Monitor bahwa buku Harry Potter menciptakan "tren komersialisasi penceritaan dongeng masyarakat Barat", "moral dalam cerita tersebut sudah tersampaikan, namun dilenyapkan akibat adanya unsur budaya pop saat ini. Setelah 10 tahun, 4.195 halaman, dan lebih dari 375 juta kopi, prestasi menjulang J.K. Rowling memiliki landasan hampir semua unsur sastra anak: "kepahlawanan". Harry Potter, menurut Sawyer, tidak menghadapi "perjuangan moral" ataupun mengalami pertumbuhan etika, dan dengan demikian "tidak ada panduan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah".[120] Sebaliknya, Emily Griesinger menggambarkan perjalanan Harry untuk pertama kalinya ke Peron 9¾ sebagai perwujudan dari iman dan harapan, dan perjumpaannya dengan Topi Seleksi adalah hal pertama dari banyak hal di mana karakter Harry dibentuk oleh pilihan yang dibuatnya. Griesinger juga mencatat adanya "sihir yang lebih kuat" dalam pengorbanan ibu Harry untuk melindungi putranya di sepanjang seri, yang gagal dipahami Voldemort.[121]
Dalam artikel Slate tanggal 8 November 2002, Chris Suellentrop menyejajarkan Potter dengan "anak malang yang sukses di sekolah karena bakat teman-teman dan kerabatnya". Ia mencatat bahwa dalam fiksi Rowling, kemampuan sihir adalah "sesuatu yang kau peroleh sejak lahir, bukan sesuatu yang dapat dicapai", Suellentrop juga menyatakan bahwa pepatah Dumbledore: "Pilihan kitalah, yang menunjukkan orang seperti apa kita, lebih dari kemampuan kita", adalah munafik.[122] Pada 12 Agustus 2007, New York Times meninjau Relikui Kematian, Christopher Hitchens memuji Rowling atas "cerita sekolah Inggris-nya" tanpa menciptakan "dunia demokrasi yang penuh keragaman".[123]
Kontroversi
Buku-buku Harry Potter juga telah menimbulkan kontroversi dalam dunia sastra dan penerbitan. Pada tahun 1997-1998, Harry Potter dan Batu Bertuah memenangkan hampir semua penghargaan buku di Britania Raya yang dinilai oleh anak-anak, namun tidak ada satupun penghargaan buku anak-anak yang dinilai oleh orang dewasa.[130] Sandra Beckett menyindir bahwa buku-buku ini hanya populer di kalangan anak-anak.[131] Pada tahun 1999, Whitbread Book of the Year Award untuk pertama kalinya memberikan penghargaan utama bagi buku anak-anak, dan salah satu juri mengancam akan mengundurkan diri jika Harry Potter dan Tawanan Azkaban dinyatakan sebagai pemenang. Buku ini pada akhirnya hanya menempati posisi kedua, di belakang pemenang hadiah puisi Seamus Heaney, yang menerjemahkan puisi epik Anglo-Saxon, Beowulf. Antara tahun 1997-1999, Rowling secara berturut-turut memenangkan Smarties Book Awards. Rowling akhirnya menarik diri dari kompetisi ini untuk memberikan kesempatan pada penulis yang lainnya.[131]
Pada tahun 2000, tak lama sebelum penerbitan Harry Potter dan Piala Api, tiga seri Harry Potter sebelumnya telah menduduki puncak daftar buku fiksi terlaris New York Times, atau sepertiga dari entri buku-buku anak-anak. Surat kabar itu kemudian menciptakan daftar terbaru untuk buku anak-anak, memisahkan antara fiksi dan nonfiksi, serta hardcover dan softcover untuk memberikan kesempatan pada buku anak-anak yang lainnya. Langkah ini didukung oleh para penerbit dan penjual buku.[86] Pada tahun 2004, The New York Times lagi-lagi memecah daftar buku anak-anak terlaris yang masih saja tetap didominasi oleh buku-buku Harry Potter, memisahkan antara buku berseri dan buku individu, dan menyingkirkan Harry Potter dari daftar buku individu.[132] Pemecahan daftar ini telah memicu berbagai pujian, kecaman, dan beberapa komentar yang menunjukkan manfaat dan kerugian dari langkah ini.[133] New York Times beralasan bahwa pemecahan daftar ini sama dengan kasus Billboard yang harus membuat tangga lagu terpisah pada tahun 1964 saat grup musik Inggris The Beatles merajai lima tangga lagu sekaligus, atau Nielsen yang harus membuat daftar game-show terpisah saat Who Wants to Be a Millionaire? – yang juga berasal dari Inggris – mendominasi rating Nielsen.[134]
Adaptasi
Film
Columbus menolak menyutradarai film ketiga, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, dan hanya bertindak sebagai produser. Sutradara Meksiko Alfonso Cuarón mengambil alih posisi Columbus sebagai sutradara, dan setelah pengambilan gambar pada tahun 2003, film ini dirilis pada 4 Juni 2004. Film keempat mulai diproduksi sebelum dirilisnya film ketiga. Oleh sebab itu, Mike Newell dipilih sebagai sutradara untuk Harry Potter and the Goblet of Fire, yang dirilis pada 18 November 2005.[142] Newell merupakan sutradara Inggris pertama yang menggarap seri Harry Potter. Harry Potter and the Order of the Phoenix disutradarai oleh sutradara televisi David Yates. Produksi film ini dimulai pada bulan Januari 2006 dan dirilis setahun kemudian pada bulan Juli 2007, bertepatan dengan peluncuran novel terakhir, Harry Potter dan Relikui Kematian. Oleh sebab itu, banyak yang menganggap bahwa Juli 2007 adalah "bulannya Harry Potter".[143][144] Karena eksekutif "sangat menyukai" film sebelumnya, Yates terpilih lagi untuk menyutradarai Harry Potter and the Half-Blood Prince, yang dirilis pada 15 Juli 2009.[145][146][147][148]
Pada bulan Maret 2008, Presiden dan COO Warner Bros., Alan F. Horn, mengumumkan bahwa film terakhir dalam seri, Harry Potter and the Deathly Hallows, akan dirilis dalam dua bagian sinematik: Bagian 1 pada 19 November 2010 dan Bagian 2 pada 15 Juli 2011. Produksi kedua bagian ini dimulai pada bulan Februari 2009, dan hari terakhir pengambilan gambar berlangsung pada 12 Juni 2010.[149][150]
Tiga pemeran utama dalam film-film Harry Potter. Dari kiri ke kanan: Daniel Radcliffe (Harry Potter), Rupert Grint (Ron Weasley) dan Emma Watson (Hermione Granger).
Pendapat mengenai film-film Harry Potter di antara penggemar umumnya terbagi dua; satu kelompok lebih memilih untuk setia pada dua film pertama, dan kelompok lainnya lebih memilih untuk menyukai film-film sesudahnya.[155] Rowling sendiri secara rutin selalu mendukung setiap film, dan menyatakan bahwa Deathly Hallows adalah "salah satu favoritnya" dalam seri.[156][157][158][159] Rowling menulis di situs webnya tentang transisi dari buku ke film: "Tidak mungkin untuk memasukkan setiap alur cerita buku ke dalam sebuah film yang durasinya hanya di bawah empat jam. Jelas film memiliki batasan-batasan yang tidak dimiliki novel, kendala waktu dan anggaran; sementara saya bisa membuat efek yang memukau tanpa mengandalkan apapun selain interaksi antara imajinasi saya sendiri dan para pembaca".[160]
Dalam British Academy Film Awards ke-64 pada bulan Februari 2011, Rowling, bersama dengan produser David Heyman dan David Barron serta sutradara David Yates, Alfonso Cuarón dan Mike Newell menerima penghargaan Michael Balcon Award for Outstanding British Contribution to Cinema atas nama semua film dalam seri Harry Potter. Aktor Rupert Grint dan Emma Watson, yang memerankan karakter Ron Weasley dan Hermione Granger, juga hadir.[161][162]
Permainan
Ada sebelas permainan video Harry Potter, delapan di antaranya sesuai dengan film dan buku, dan tiga lainnya merupakan spin-off. Permainan yang didasarkan pada film/buku diproduksi oleh Electronic Arts, termasuk permainan Harry Potter: Quidditch World Cup. Versi permainan video pertama dalam seri; Philosopher's Stone, dirilis pada bulan November 2001. Setiap permainan video umumnya dirilis bertepatan dengan perilisan film, yang berisi pemandangan dan detil dari adegan film serta dialog dan semangat dari kisah buku. Permainan biasanya berlangsung di dalam dan di sekitar kastil Hogwarts dan di berbagai kawasan sihir lainnya. Cerita dan desain permainan mengikuti karakterisasi dan plot film; EA bekerja sama dengan Warner Brothers agar bisa memasukkan adegan film ke dalam permainan. Permainan video terakhir dalam seri, Deathly Hallows, dipecah menjadi dua bagian, yakni Bagian 1, yang dirilis pada November 2010 dan Bagian 2, yang dirilis untuk konsol pada bulan Juli 2011. Permainan terdiri dari dua entri, dengan entri pertama yang menyampaikan tema intens dari aksi dan kekerasan, gameplay memiliki format bergaya penembak orang-ketiga.[163][164] Permainan spin off lainnya seperti Lego Harry Potter: Years 1–4 dan Lego Harry Potter: Years 5–7 dikembangkan oleh Traveller's Tales dan dipublikasikan oleh Warner Bros. Interactive Entertainment. Sejumlah permainan media noninteraktif lainnya juga telah dirilis, misalnya permainan papan Cluedo Harry Potter Edition, Scene It? Harry Potter dan Lego Harry Potter, yang dipengaruhi oleh tema dalam novel ataupun film.- 2001 - Harry Potter and the Philosopher's Stone
- 2002 - Harry Potter and the Chamber of Secrets
- 2004 - Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
- 2005 - Harry Potter and the Goblet of Fire
- 2007 - Harry Potter and the Order of the Phoenix
- 2009 - Harry Potter and the Half-Blood Prince
- 2010 - Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1
- 2011 - Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2
Langganan:
Postingan (Atom)











